#1 Wedding Diary: Engagement

Udah lama sekali ya saya nggak nulis blog, kadang kangen juga sih, banget… Saya belum nemu formula yang tepat untuk menyisipkan rutinitas menulis blog diantara kesibukan kerja. Tapi, demi, demi yang satu ini saya sempat-sempatkan deh (walau tetep ya udah agak basi soalnya udah berapa bulan berlalu gitu).

Saya mau bikin pengumuman: I’m officially engaged. Iya, saya udah dilamar 23 April 2016. Happy? Absolutely yes 🙂

image

Jadi, saya memutuskan untuk menulis semacam catatan perjalanan menuju pernikahan saya, catatan yang bisa jadi pengingat buat diri sendiri untuk selalu bersyukur bisa sampai ke tahap ini.

Saya dan dia, calon suami saya (uhuuk), ceritanya dikenalin iseng aja gitu sama temen kuliah saya. Pertama kali kenal tidak pernah terpikir bakal jadi calon suami, apa ya, kita awalnya ya cuma temenan, rusuh, akur sampe berantem diem-dieman hampir musuhan dan nggak mau kenal lagi terus tiba-tiba baikan. Sampe akhirnya kurang lebih 5 bulan kenal, dia tiba-tiba aja pengen dikenalin ma ortu.

Januari, kebetulan dia lagi Jakarta, saya langsung ke Jakarta dan sama-sama kita ke Ciamis. Saya pikir waktu itu kapan lagi secara dia balik ke Pulau Jawa nih cuma 3 bulan sekali dari tempat kerjanya di hutan antah berantah itu. Perasaan saya? Deg degan. Gimana nggak, itu pertama kali saya bawa cowok ke rumah. Pertama kali!!!! Udah mikir aneh-aneh aja gitu, gimana kalau gini, gimana kalau gitu.

Dia ngobrol berdua ma bapak saya, nggak tahu tepatnya obrolan mereka, yang jelas dia cuma bilang April datang buat lamaran resmi ma keluarga. Kenapa April? Ya karena itu jadwalnya cutinya dia. Hehehe…

Rasanya sampe sekarang pun kadang saya nggak percaya udah dilamar, mau nikah, bride to be, sampe ada ya temen saya yang terharu lebay gitu lah waktu denger kabar saya yang beberapa bulan lalu masih curhat-curhat galau udah mau jadi istri orang aja. Hahaha…

Udah ah segitu aja. Nanti disambung lagi ke cerita persiapan nikah yang ribet dan lumayan bikin stress. 😀

Andai Gojek Ada Di Sini

Mengalami kejadian cukup mengerikan dan lemes gemeternya masih terasa sampe sekarang H+2 itu… Errrr….

Yang jelas di saat kerjaan numpuk, mobilitas tinggi terus si cinta pacar aku paling setia yang nemenin tiap hari harus dibenerin tuh.. Nyesek

image

Kasian kan... Penyok

Tolong mojokerto nih ada gojek pleaseeeeee….

Posted from WordPress for Android

Lebih Sederhana

Kurasa aku tak bisa mencintai dengan cara yang sama seperti dahulu.
Tidak bisa.

Aku mulai bosan
Getar itu hanya euphoria sesaat.
Mungkin aku yang tidak cukup mencintaimu

Atau bisa jadi aku mulai bertumbuh
Merubah cara mencintai yang teramat sangat
Menjadi lebih sederhana

Posted from WordPress for Android

Kesan Pertama

Hari ini saya berkenalan dengan seseorang (perempuan). Kami pertama kali bertemu. Pertama kali berjabat tangan, ekspresinya saja sudah merengut. Hehehe… Dan lagi diteruskan dengan pertanyaan yang bagi saya nadanya memojokkan. Hmmm…

Well, kesan pertama udah nggak enak gitu.

Saya jadi mikir… Tentang kesan pertama. Mengingat-ingat diri sendiri saat berkenalan dengan orang lain pertama kali. Saya memang bukan tipe yang mudah akrab ma orang asing, langsung ngobrol macem-macem, kecuali ditanya bakal saya jawab seperlunya. Kadang juga saya tidak bertanya balik. Tapi nggak pernah memasang ekspresi yang tidak enak. Paling senyum sedikit terus pasang muka datar andalan. Hehehe..

Ya sudah sih gitu aja. Moga saya salah, mungkin lagi PMS aja orang yang kenalan ma saya itu 😀😁😀

*postingan nggak penting saat menunggu di imigrasi

Posted from WordPress for Android

Selamat Ulang Tahun Yang Terlambat

Ketika aku memangkas jarak ribuan kilometer hanya untuk mengucap selamat ulang tahun dan selamat tinggal tapi tak menemukan apapun, entah seperti apa lagi kugambarkan rasa.

Setidaknya ucapkan selamat tinggal dengan benar. Perpisahan itu sendiri terlalu menyakitkan, jangan mempersulitnya lebih lebih lagi.

Selamat ulang tahun, lelaki 20 september.
Semoga kamu bahagia.

Untukmu yang sedang menarikan bahagia dalam mimpi yang mulai nyata…

Dariku yang terlalu takut untuk berharap akan ada lagi pertemuan meski di kehidupan selanjutnya.

*Maaf untuk keterlambatan, aku terlalu kaget dengan semua ketiba-tibaan. Sadar bahwa jarak semakin sulit untukku sekedar memperhatikanmu dari tempat tersembunyi saat rindu butuh candu sementara.

Posted from WordPress for Android

Terakhir Untuk R

R,
kali ini akan menjadi yang terakhir aku menulis untukmu… Semuanya tak kan mudah, tapi aku sudah berjanji kemarin adalah hari terakhir aku menangis karenamu. Seluruh rindu yang tak pernah tuntas pun kuputuskan untuk menyisihkannya, membiarkan waktu melebur segala menjadi abu.

R,
aku tidak sedang membuangmu seperti yang kamu lakukan dua tahun lalu padaku. Aku hanya ingin membebaskan diri sendiri dari rasa bersalah akan kekhilafan yang membuat ruang antara membentang begitu luas di antara aku dan kamu.

R,
selamanya kamu akan menjadi seseorang yang pernah kucintai begitu rupa. Seseorang yang selalu kusisipkan namanya di setiap do’a.

Tapi, R,
aku tertampar begitu rupa setelah sekian lama. Terlambat? Mungkin. Aku salah jika mengira aku pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu. Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang benar-benar dengan sadis kamu singkirkan dalam perjalanan menuju impianmu.

R,
Aku menyerah… Kamu tak kan kehilangan apapun saat aku memutuskan untuk berhenti. Aku berhenti untuk peduli.

Selamat tinggal, R.
Aku yakin kamu sedang berbahagia. Selalu. Selamanya…

Semoga tak ada lagi ‘aku’ lain yang lagi-lagi dengan sadis kamu tinggalkan. Cukup satu.

Posted from WordPress for Android

Ramadhan Kedua

Tahun ini ramadhan kedua setelah kita tak lagi saling menyapa.
Tak ada lagi panggilan pengingat saat sahur.
Tak ada lagi kejutan kecil ketika kuterbangun dini hari dan menemukan rekaman suaramu menyanyikan lagu kesukaanku.
Tak ada lagi kekonyolan saling mengirim voice mail dan mentertawakan suara serupa alien.
Tak ada lagi basa basi tentang menu buka hari demi hari.
Tak ada lagi salam semangat pengantar tarawih.
Tak ada lagi tanya: sudah berapa juz hari ini?
Tak ada lagi kamu…

Dan aku tak berani menyapa lebih dulu,
meski rindu…

Dimanapun kamu semoga berbahagia…

Rindu

Rasanya aku ingin terbang ke tempat di mana kamu berada.
Menemuimu hanya untuk mengucap rindu…

Apa yang harus kulakukan agar semua ini menjadi lebih mudah?

Perkara Mimpi

Awalnya setiap kamu menyusup di mimpiku
Semakin perih dalam luka yang tak kunjung punah
Kuhindari tapi makin menjadi

Hingga setelah sekian lama saat kamu bahkan semakin jarang menyusup di mimpiku
Aku yang mulai terbiasa dengan hadir semumu
Semakin kehilangan

Karena hanya dalam mimpilah
Aku bebas bermain main bersama kenangan yang kamu sisakan

Lalu aku akan jadi apa jika kamu hilang seutuhnya?

Posted from WordPress for Android