Hujan Mengingatkanku Padamu

Saat tulisan ini dibuat, hujan deras di luar sana. Titik hujan bergelayut di jendela. Aku yang seharusnya menyelesaikan kerjaan malah asyik menatap hujan.

Hujan mengingatkanku padamu…

Malam itu, kusebut saja malam rekayasa karena memang sahabatku yang ‘merekayasa’ tetiba saja menyuruhku bertemu denganmu yang jelas-jelas tak sudi lagi menemuiku, hujan turun seperti hari ini. Aku bergegas dengan pakaian dan makeup yang telah kupilih seksama sejak pagi, memberhentikan angkot dan menunggumu di stasiun.

Aku berlari turun dari angkot, mencari tempat berteduh terdekat, sekaligus tempat termudah untukmu menyadari kehadiranku. Ternyata kamu telah duduk di ujung sana. Aku menghampirimu. Ada jeda cukup panjang kita tanpa perbincangan.

Kemudian begitu saja aku sudah membonceng sepeda motormu menuju tempat makan. Aku tahu kamu lelah, lapar, berjam jam menempuh perjalanan entah demi apa, bukan demi aku. Entah bujuk rayu seperti apa yang dilakukan sahabatku untuk membuat malam rekayasa ini ada. Hanya agar kita saling bicara, menuntaskan apa yang menyakiti kita dalam diam.

Kita duduk bersisian, sibuk dengan nasi dan lauk yang masih mengepul, hangat. Hujan masih setia menjadi irama latar kebisuan kita. Aku bertanya kabarmu, kamu menjawab seadanya. Tampak gelisah. Kemudian bertanya jalan menuju sebuah alamat yang bodohnya tak kucatat, mungkin saja ada petunjuk yang tersisa hari ini. Kamu meminjam smartphoneku, mencari alamat entah siapa di googlemap. Mungkin bagi sebagian orang yang berlalu lalang itu, kita nampak seperti sepasang kekasih yang menghabiskan malam minggu, atau paling tidak teman akrab. Padahal kita hanya dua orang yang pernah dekat kemudian menjadi asing satu sama lain.

Usai makan, usai juga semuanya. Kamu seakan tidak mau terlalu lama bercengkrama denganku. Kamu mengantarku pulang. Dan kamu pergi meninggalkan senyuman hambar yang kubalas sambil susah payah menahan airmata.

Pada akhirnya kita tak saling bicara. Pun itu adalah terakhir kali aku melihatmu, setahun yang lalu atau lebih kurasa. Aku terdiam begitu lama, berdiri di depan pagar, sampai kamu menghilang dengan sepeda motormu. Sampai hujan reda. Aku basah kuyup, masuk kamar. Menangis semalaman. Esoknya demam. Perih itu masih tersisa hingga saat ini.

 

Saat tulisan ini selesai, hujan pun reda. Pertanda berakhir pula saat untuk mengenangmu.

Aku tahu mustahil bagi kita, mustahil bagi pertemuan. Mustahil. Semoga kamu bahagia bersama seseorang yang kamu pilih. Bukan aku.

 

Lalu aku? Entahlah. Jika aku sedang tidak di balik kubikel, curi-curi tidak terekam CCTV karena melakukan diluar pekerjaan, mungkin air mata ini telah tumpah sejak huruf pertama.

 

Aku teramat ingin berhenti. Melupakan tentangmu. Sungguh aku ingin berhenti, aku ingin memulai semua dari awal dengan seseorang yang baru. Entah siapa.

Jika memang aku diberi kesempatan untuk seseorang yang baru itu, aku tak berharap apapun. Ia tak harus sesempurna dirimu. Sederhana, ya, seseorang sederhana yang ketika aku menatap matanya, hanya ada dia, bayanganmu sirna sepenuhnya. Itupun jika memang masih pantas aku berharap seseorang itu ada. Untukku.

Aku sudah lelah dengan akhir yang membentuk luka. Aku lelah.

 

Meski demikian aku tetap mencintai hujan, walau lebih banyak luka dalam setiap tetesnya.

 

 

Advertisements

39 thoughts on “Hujan Mengingatkanku Padamu

  1. Jika memang aku diberi kesempatan untuk seseorang yang baru itu, aku tak berharap apapun => akupun seperti itu, kini tak lagi berharap apapun kepada seseorang baru itu.

  2. Hujan memang selalu meresonansi masa lalu ya, Tik.. :’

    Mungkin itu lebih baik menurut Yang Maha Kuasa. Ia tidak mengizinkan kalian bersama, entah jika hanya sementara. Yang jelas dan terpenting ialah kamu harus tetep bisa bangkit dan menjalani kehidupan dengan rasa bahagia.. :*

  3. Aku menemukan blogmu ketika aku membaca komentar di blog Aan Mansyur. Ia bilang tulisanmu bagus, walau terlihat tidak tulus. Namun aku ingin membuktikanya sendiri. Dan, yah akhirnya aku sudah di sini. Membaca tulisanmu.

    So, bagaimana sekarang? Sudah menemukan orang yang sederhana itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s