Kepada R

Sepertinya aku mulai mencintai hal yang tidak nyata… Dan mulai sering berkhayal andai waktu bisa diulang pada hari dimana aku dan kamu masih saling menyapa.

 

Hai R yang baik saja disana. Kurasa.

Jika kamu telah berlari bersama seseorang yang kamu puja itu, maka aku masih sama. Terjebak di ruang maya yang penuh jejak perbincangan terakhir kita. Tertawa bersama luka yang tak lagi menyisakan air mata saking terlalu sulitnya mendefinisikan kesakitan.

Tidak. Ini sama sekali bukan salahmu.

Ini salahku karena mencintaimu.

 

Hai R yang telah jauh di sana,

Aku memang telah beranjak dari kota tempat kenangan pertama itu, tapi sebenarnya terpaksa. Dan kukira hanya sekedar bergeser. Nyatanya hanya satu jam perjalanan untuk kembali menelusuri jejak jejak masa lalu. Pada kenyataannya aku memang tidak pernah melakukan apapun untuk segera melenyapkan semua rasa yang tak lagi berguna.

Aku masih menunggu, meski sia sia.

Jadi R, aku mungkin baru sanggup mengucapkan selamat tinggal pada hal yang nyata. Sedangkan kamu telah bermetamorfosis menjadi siluet di bilik kenanganku.

Ya bilang saja aku, seseorang yang masih menunggu hingga seseorang lain mengusir ketidaknyataanmu dari sisiku.

Kuberitahu sebuah rahasia: Aku masih setia mendengarkan suaramu bernyanyi lagu favoritku.

 

Hai R, andai kita tak pernah bertemu sekalipun, belum tentu juga aku tidak terluka. Sudahlah aku juga tidak mengerti sedang bicara apa. Yang jelas, lagi lagi aku mulai merindukanmu… Meski pertemuan terlalu mustahil untuk kita.

R, lagi lagi aku merindukanmu.

R, sebenarnya aku ingin melupakanmu. Tapi aku terlalu lelah berusaha sendirian. Mungkin aku hanya butuh seorang penuntun yang akan mengeluarkanku dari ketersesatan dalam jejak kenangan kita.

Aku merindukanmu…

Selalu menangis setiap mengingatmu terlalu dalam. R, aku semakin tidak berguna karena terlalu lemah untuk berdiri sendiri. Aku juga mulai merasa kesunyian adalah segala yang tersisa. Aku terlalu takut untuk bangkit kemudian lagi lagi terluka.

R, aku takut suatu hari aku berakhir dalam ketidakwarasan.

Selamat tinggal R. Semoga bahagia.

 

 

aku yang masih tersesat dalam jejak kenangan.

 

Advertisements

39 thoughts on “Kepada R

  1. “Biarkan kenangan merengkuhmu di saat kau merasa sendiri, agar kau sadar bahwa kau sebenarnya tak mampu meratap dalam sendiri. Biarkan bulir air mata memelukmu dalam gelap, mengganti semua rindu yang belum sempat terucap.”
    “Dengan semua air matamu, kau sedang meniti tangga kedewasaan. Angkat mukamu, tersenyumlah, dunia tak seburuk kelihatannya.”
    I guess those quotes apply to you 😀
    Keep your faith, keep your chin up, Miss! Semoga cepat dapat gantinya, tetap semangat :hihi

  2. Sabar jeng… sekarang si “R” selalu aku bawa setiap harinya… JIka ingin bertemu dengannya, pliss call me…
    Lalu dimana “R” itu…
    #ada di plat motorku 🙂
    HIkz…..

  3. di awal, padanan katanya bagus dech tik.
    tapi endingnya malah kayak semrawut, kelihatan banget galaunya, hihihi…

    biasanya, orang kalau lagi mellow jago bikin puisi, dulu aku juga gitu. 🙂
    sekarang malah jadi udah ga produktif puisi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s