Menjadi Peri

Mungkin aku terlalu keras atau bisa jadi terobsesi untuk menjadi peri yang bisa mewujudkan impian semua orang. Hingga terkadang lupa sampai mengorbankan kepentingan sendiri. Tapi mana bisa aku menutup mata jika ada orang yang datang dengan harap. Aku tak mungkin tega. Ya memang aku mudah iba. Apalagi terhadap orang terdekat, yang telah bersama sekian tahun berbagi tawa dan air mata. Tenang saja, kawan, kita hadapi semua kesulitan ini bersama. Karena kamu selalu ada lebih dari saudara sedarah.

Kita akan saling menguatkan dalam masa masa tersulit dan saling mendoakan untuk sesuatu yang manis di ujung perjuangan.

Karena kamu juga yang akan selalu menampung segala kesah tak penting soal rasa yang tak pernah selesai. Sampai kamu bosan, aku tak pernah beranjak dari seseorang yang sama.

Bukankah kita sudah terlalu terbiasa dengan segala tekanan hidup? Kita bisa melewati ini bersama… Bisa meski jemari kita tidak bertautan, fisik kita terpisah jarak yang lapang, tapi hati kita tidak.

*ceracau mellow pagi hari. kadang miris dan ironis ya, kawan. tapi suatu hari ‘indomie’ akan jadi kisah yang ‘seksi’ untuk dikenang, yong ๐Ÿ™‚
*Anggap saja cobaan ini cara Tuhan mencandai kita biar lebih akrab.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Peri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s