Absurd

Aku tak peduli sekalipun dianggap absurd terus bertahan dalam luka-luka yang tersisa setelah kamu pergi. Bahkan kamu, tak cukup hanya sekali menyakitiku begitu rupa. Aku ingin membencimu, jika saja itu semudah yang selalu dikatakan kawanku.

Karena, kamu, mereka, kalian, tak pernah tahu seperti apa kesakitan yang kurasa saat mengingatmu. Betapa kuat firasat yang bergerak bersama setiap langkahmu. Aku tak pernah meminta semua isyarat halus yang menyiksa. Seharusnya lupa, dari dulu. Tapi tidak.

Luka… Takkan hilang seluruh meski suatu hari seorang penyembuh memperbaiki semuanya. Bahkan sekalipun kamu kembali. Luka meninggalkan jejak sebagai pengingat waktu yang tersiakan, mustahil terulang…

Terkadang aku ingin mengutukmu dengan kata-kata paling jahat yang aku tak tahu untuk apa. Tak perlu lagi berpura-pura bukan?

Aku tak tahu lagi definisi rasa untukmu. Yang aku mengerti hanya kesakitan saat ingatan tentangmu menari-nari di kepala. Tertawa mengejekku. Seperti juga kamu yang tertawa bersama seseorang yang kamu bilang milikmu itu.

Aku tahu ini absurd…

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s