Surat yang Tak Pernah Sampai

Kepada kamu,
Aku benar-benar meminta maaf atas segala yang terjadi berbulan lalu hingga kita saling menjauh dalam tanda tanya, terlibat perang dingin tak berkesudahan. Aku telah menyakiti harga dirimu begitu rupa sehingga bahkan tak ada lagi kesempatan berbicara untukku. Aku tak lebih dari seorang asing yang tak kan pernah kamu lirik lagi bahkan dengan sebelah mata sekalipun.

Aku harus puas dengan secuil informasi yang kamu bagi melalui sosial media. Hanya untuk memastikanmu bahagia. Meski seringkali aku cemburu pada perempuan-perempuan di sekelilingmu yang tak henti mencoba menarik perhatianmu. Aku bisa apa selain memendam pedih dalam diam?

Aku harus melapangkan hati ketika kamu menjalin hubungan dari satu perempuan ke perempuan lain silih berganti tanpa pernah menjatuhkan pilihan kepadaku. Tak pernah aku. Bukan aku.

Sepertinya aku begitu tak pantas berdiri mendampingi seseorang yang luar biasa sepertimu. Aku tak punya wajah menarik seperti perempuan-perempuan yang silih berganti kamu genggam jemarinya. Aku tak memiliki kejeniusan yang bisa membuatmu terpukau. Pun aku bukan perempuan dengan tutur laku lembut dan luhur yang membuatmu terpikat. Bahkan aku terhalang jarak, tak bisa menyapamu setiap saat seperti perempuan-perempuan pengagummu itu.

Aku bisa apa? Seandainya aku telah menjadi pantas untukmu sekalipun, apakah kamu mau menerima dengan hati terbuka seorang perempuan yang telah menggoreskan luka terhadap harga dirimu?

Aku telah kehabisan air mata untuk menangisimu, luka ini terlalu menyakitkan untuk dilukiskan hanya lewat tangis diam-diam. Aku terlalu mati rasa untuk meneriakkan pedih. Aku lebih banyak diam yang justru lebih mengerikan.

Aku benar-benar minta maaf untuk melukai harga dirimu…

Aku tak pernah sekalipun bermimpi bisa bertemu denganmu. Saat berbulan lalu kita bertemu pertama kali sekalipun aku tetap merasa itu mimpi. Bahkan saat kita telah saling menjauh karena kebodohanku, segalanya terasa seperti mimpi. Sayangnya semua itu adalah kenyataan yang harus kuterima seutuhnya.

Aku tak pernah menyesal telah memilih untuk jatuh cinta begitu rupa kepadamu, meski itu adalah sebuah kesalahan karena aku tak memiliki kepantasan untuk kamu cintai.

Aku tetap mencintaimu meski banyak alternatif lain yang bisa kucintai dengan lebih masuk akal. Aku tak tahu akhir seperti apa yang menungguku karena begitu tak tahu diri mencintaimu.

Mungkin…

Mungkin bertahun kemudian jika kamu tetap sibuk dengan perempuan-perempuan silih berganti yang tak kan pernah aku sebagai pilihan, aku harus puas hidup bersama sosokmu dalam pikiranku.

Merindukanmu setiap kali menatap jemari yang pernah kamu genggam begitu rupa. Merindukanmu setiap kali menatap pundak yang pernah merasakan kehangatan dalam rengkuhan lengan kokohmu. Merindukanmu setiap kali menatap kening yang pernah merasakan sentuhan telapak tanganmu. Merindukanmu hingga jatuh tertidur dengan ilusimu menjagaku tetap terlelap.

Betapa aku ingin menyingkirkan setiap bagian tubuhku yang pernah bersentuhan dengan kulitmu. Betapa aku membenci diriku sendiri dalam dosa yang membuat Tuhan murka.

Aku mencintaimu. Merindukanmu. Menunggumu tersesat kembali kepadaku…

Kadang aku berharap kita tak usah bertemu. Kita akan tetap berteman dalam damai dengan aku yang memendam cinta diam-diam. Aku bebas mengirimimu pesan pendek, sesekali menelponmu untuk menuntaskan kerinduan pada suaramu, mengucapkan selamat setiap kali kamu ulang tahun, merayakan setiap hari spesialmu terang-terangan dengan mengirimkan kado berisi segala yang kamu inginkan.

Aku memang harus cukup puas merayakan ulang tahunmu diam-diam bertahun ke depan. Membuatkanmu sebentuk tart, menyalakan lilin, merapal doa-doa, meniupkan lilin tepat tengah malam. Kemudian membiarkan tart itu membusuk karena kamu tak kan pernah memakannya. Begitupula kado yang telah rapi terbungkus akan tetap menumpuk hingga tak tertampung lagi di kamarku karena kado itu mustahil sampai ke tanganmu.

Aku benar-benar minta maaf untuk melukai harga dirimu…

Jika…
Jika suatu hari kamu lelah berganti-ganti perempuan, kemudian menjatuhkan pilihan kepada seorang perempuan -yang tetap bukan aku-, aku tak kan pernah menyesal. Setidaknya aku telah memperjuangkanmu hingga akhir. Meski aku tak melakukan apapun selain menunggumu. Menunggu Tuhan membuat takdir kita melebur dalam sebuah ikatan.

Aku benar-benar meminta maaf untuk melukai harga dirimu…

Penuh cinta,

Aku, perempuan yang mencintaimu. Menginginkanmu. Hanya kamu. Apa adanya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

12 thoughts on “Surat yang Tak Pernah Sampai

  1. Assalamu’alaikum kak, sebelumnya salam kenal saya follower baru di blog ini :3 pertama kali ke sini langsung baca cerita pendek ini semacam takdir ya (?) soalnya sama kaya yang aku alami sekarang T_T *bisa gini ya huhuhu. Ceritanya bagus, padet, jelas dan hmmm aku banget (?) hehe ijin repost di blog ku ya kak 🙂 makasiiih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s