Hampa

Aku menangisi lembaran kosong yang tak juga tertorehkan rangkaian aksara seperti biasa. Seperti dahulu. Sebelum kamu melumpuhkan otakku, membuatku lupa jika rangkaian aksara adalah pelarian nomor satu saat dunia terlalu lelah disinggahi.

Aku menatap tanpa selera tumpukan buku-buku yang enggan kubaca. Lagi-lagi kamu menahan langkahku menuju pelarian terakhir, tempat aku tenggelam dalam rimba aksara yang membuatku lupa segala.

Aku muak dengan tempat pelarian yang berulang kusinggahi sejak lama. Seluruh dunia tak kan pernah percaya jika aku muak merangkai dan membaca aksara.

Lalu ke mana lagi aku berlari setelah ini?
Mengapa aksara yang membuatku muak, bukan kamu saja?

Posted from WordPress for Android

Advertisements

19 thoughts on “Hampa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s