Kehilangan dalam Kebahagiaan

Sore itu, 1 Februari 2014, hujan turun perlahan menyisakan titik-titik mungil di kaca jendela, ketika smartphone saya berbunyi menandakan masuknya pesan WA.

“Acara hari ini lancar.” Begitu bunyi pesan yang dikirim sahabat saya. Acara apa? Saya butuh beberapa detik sampai tersadar bahwa hari ini sahabat saya dilamar kekasihnya.

Sebelumnya ia telah memberi tahu rencana lamaran itu. Seperti layaknya pasangan yang akan melangkah ke jenjang lebih tinggi selalu disusupi keraguan (sok tahu banget gue 😀 ), godaan yang jika berusaha menyurutkan langkah. Saat itu saya hanya bilang apa yang saya percayai kepadanya:

Kamu tak akan bisa mengenal pasanganmu seutuhnya meskipun berpacaran puluhan tahun. Setelah menikah pasti tetap saja banyak hal yang akan membuatmu terkejut. Justru saat itulah kamu diuji untuk mencintai kekurangannya dan berkomitmen bersama untuk menjadi lebih baik. Jodohmu tak kan datang dan berkata: ini aku jodohmu. Kamulah yang memutuskan. Ketika kalian telah sama-sama siap, ketika kamu telah menemukan seseorang dengan keimanan sebagai modal sebagai imammu, ketika kedua keluarga telah memberi restu, apalagi yang kamu tunggu?

Saya bahagia mendengar ia telah menemukan seseorang yang akan melengkapi hidupnya setelah penantian panjang yang diwarnai berbagai kekecewaan. Tapi tak dapat dipungkiri ada sedikit rasa kehilangan.

Ia dan saya telah melewati berbagai hal bersama. Menangis. Tertawa. Ada 1 ritual yang akan sangat saya rindukan: ritual malam minggu. Ketika kami sama-sama jomblo, setiap malam minggu akan dihabiskan dengan berkeliling Surabaya menggunakan Honda Beat warna merah miliknya. Tanpa tujuan. Perjalanan kami bisa berakhir dengan menyantap jagung bakar, semangkuk ronde, dimsum, apapun. Mengingat sahabat saya itu suka sekali makan. Hahaha… Ia akan selalu bilang enak untuk semua makanan dan enak banget untuk makanan yang benar-benar enak 😀

Atau saat kami sama-sama suntuk, Honda Beat miliknya akan membawa kami ke kedai kaki lima di pinggir Kali Mas yang kami namai DANAU (padahal jelas-jelas itu sungai 😀 ). Danau jadi semacam kode saatnya untuk menggalau ditemani secangkir cappucino untuk saya dan ia dengan segelas susu kedelai, kadang ditambah sepiring pisang keju. Tempat ini tidak istimewa, entah kenapa terasa menyenangkan bercerita berbagai hal sambil menatap air sungai yang mengalir. Tempat ini tidak indah sama sekali, entah kenapa begitu menenangkan untuk menghabiskan waktu hingga larut. Mungkin bukan tempatnya, tapi kebersamaan kami lah yang membuat DANAU terlihat sempurna.

Bahkan tempat karaoke tak luput membersamai persahabatan kami. Ia dengan lagu andalan Malaikat Juga Tahu versi Glenn Fredly atau Selamanya Cinta milik D’Cinnamons. Saya yang selalu setia dengan Distance-nya Christina Perri. Linkin Park atau lagu Bring Me To Life menjadi pilihan saat kami ingin berteriak menumpahkan kekesalan.

Berburu penulis terkenal juga saya lakoni bersamanya, mendatangi berbagai event bedah buku. Bahkan movie roadshow gratis.

Ia juga terkadang begitu konyol, seperti saat ulang tahunnya yang saya lupa keberapa, ibunya membawakan sebuah kue tart ke kos kami. Malamnya ia memaksa seluruh penghuni kamar kos mengucapkan selamat ulang tahun dan berakting bahwa kue itu surprise yang diberikan untuknya. Kami tertawa-tawa sambil makan kue tart setelahnya.

Dan sekarang ia akan menikah. Rasanya seperti…. Entahlah. Saya bahagia. Benar-benar bahagia untuknya. Tapi di satu sisi saya kehilangan, apalagi kami telah berbeda kota saat ini. Entah kapan lagi kami bisa mengulang semua ritual kebersamaan yang hanya menyisakan kenangan.

“Kamu harus datang, dimanapun nanti kamu berada.” Begitu kalimat penutup WA yang ia kirimkan. Tentu saja. Saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat kecantikannya dalam gaun pengantin. Semoga Tuhan memberi kesempatan untuk saya menghadiri momen paling berharga dalam perjalanan hidupnya.

Saya kehilangan. Satu persatu orang terdekat saya melangkah bersama seseorang yang melengkapinya. Dan mungkin suatu hari akan tiba giliran saya melangkah meninggalkan orang terdekat saya.

Waktu tak pernah berhenti menghadirkan takdir hidup yang mesti dijalani.

Semoga Tuhan memudahkan segalanya hingga tiba hari pernikahanmu dan sesudahnya ketika kamu membangun hidup bersama kekasihmu.

*Tahun ini saya akan tetap menjadi tamu yang melangkah ke pelaminan. Saya masih harus menunggu sampai entah kapan… Lagipula saya belum ingin dan masih banyak yang mesti dibenahi dari sisa-sisa masa lalu.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

14 thoughts on “Kehilangan dalam Kebahagiaan

  1. enak banget tiap malam minggu keliling kota surabaya trus berlanjut makan jagung bakar, laaah saya dulu jomblo di rumah aja hehehe… kebanyakan nonton film, trus ngantuk trus bobok deh 🙂

  2. Sangat cocok judulnya dengan keadaan yang ada. Sebagai sahabat tentu kita sangat kehilangan karena dia akan melangkah ke hal yang lebh baik lagi. Namun, kebahagian dia pasti jadi kebhagian kita juga, karena kta pernah berjuang bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s