Giveaway Kolaborasi: Genetika; Cinta Pertama, Terakhir, dan Selamanya

Kalau saya ditanya soal mimpi, kayaknya nggak bakal selesai satu hari untuk menceritakannya karena saya rajin bermimpi (tukang khayal sejati 😀 ). Ada yang kesampean, ada yang masih dalam proses, ada juga yang harus diikhlaskan sampai akhirnya usang berdebu dan terlupakan. Setelah memilah, menimbang, mengkhayal ulang, sampai akhirnya saya memutuskan untuk bercerita tentang satu impian saya yang paling berkesan (walaupun belom kesampean. Semoga segera, amiiiin!!!) : Saya ingin menjadi ahli genetika.

dna1

Untaian DNA ini terasa indah di mata saya, seakan menatap kekasih hati (ceilaaah…)

Awal saya bersinggungan dengan genetika adalah saat SMP, ketika saya pertama kali berkenalan dengan Biologi. Saat SD saya lebih suka Matematika, pernah juara 3 Olimpiade Matematika juga tingkat kabupaten, saat SMP saya awalnya ingin memperdalam Matematika, tapi ternyata ada satu hal yang membuat saya berubah haluan. Saya tidak suka Biologi saat kelas 1 karena gurunya nggak enak banget, padahal saya adalah tipe yang cuma belajar di kelas, pulang sekolah adalah waktunya main, jadilah saya jadi bodoh Biologi, nggak ngerti apa-apa. Nah loh, nggak bisa Biologi kok pengen jadi ahli genetika? 😀

Naik kelas 2 SMP, guru Biologi saya ganti (jadi ganteng 😀 ), bapak ini terkenal galak tapi saat mengajar enak bangeeeeet, cuma masalahnya beliau suka nunjuk muridnya ke depan kelas buat jelasin materi. Apesnya si bapak cuma tahu nama saya di kelas saat itu (kakak saya alumni SMP sana dan sangat terkenal karena kegeniusannya, jadilah heboh saat adeknya masuk sekolah yang sama, padahal adeknya mah ya begitulaaaah…. hihihi), saya sering dipanggil deh, padahal saya tidak tahu apa-apa soal Biologi 😦 . Dan saya sering tidak bisa jawab, tapi si bapak tetep aja kalau nanya pertama pasti saya yang ditanya, meski begitu saya belum tergerak untuk belajar biar bisa jawab pertanyaan, sampai suatu hari…..

Saat itu Bab Rangka, saya disuruh ke depan kelas, gambarin tulang panjang sambil jelasin bagian-bagiannya. Dag dig dug der lah, mana kagak bisa gambar lagi. Ya udah pasrah. Saya ambil spidol, sret..sret…sret… Saya sih merasa itu sudah mirip sebentuk tulang.

“Yang kayak gitu tulang, Tika? Anjing ge moal beukieun (anjing juga kagak doyan)”

tulang

Harusnya gambarnya kayak gini biar anjing doyan 😀
Apa daya saya nggak bisa gambar. hehehe….

Gedubraaaaaaag….pedeeeeeees. Saya sakit hati, harga diri tercabik-cabik!!! Akhirnya saya mulai belajar Biologi, melahap buku sampai habis walaupun belum dipelajari di kelas, melengkapi catatan sekomplit-komplitnya, dibawa ke mana-mana biar bisa dibaca kapanpun. Sejak itu si bapak mulai sedikit puas karena saya sudah bisa jawab pertanyaan, beliau mulai mencari korban baru yang bisa dipermalukan di depan kelas, hehehe….

Tapi saya belum PUAS untuk membayar harga diri yang tercabik-cabik, maka dengan nekadnya saya mendaftar seleksi Olmpiade Biologi untuk memilih wakil sekolah saya ke tingkat kabupaten. Seleksinya terdiri dari 2 tahap, tahap 1 adalah soal pilihan ganda yang akan menyisakan 10 kandidat untuk lanjut ke tahap 2 yaitu soal esai yang akan menyisakan kandidat tunggal. Saat membagikan soal tahap 1 (kebetulan si bapak yang membuat soal, mengoreksi soal, dan nantinya akan membimbing kandidat tersebut), si bapak udah ngelihat sinis aja ke saya seolah berkata “Ngapain nih anak yang jawab pertanyaan di kelas aja kagak bisa malah ikut seleksi.”

Dan saya lolos seleksi walaupun di urutan ke-10, selanjutnya soal esai, si bapak masih menatap sinis “Yang tadi kamu beruntung, yang esai bisa kagak?”. Saya nggak mau nyerah dong. Terbukti saya bisa menjadi yang pertama dengan nilai sempurna, betul semua. Hahaha… Saya senang sekali saat itu bisa membuat si bapak tersenyum. Abis itu dimulailah sesi bimbingan setiap hari, bapak ini rajin banget minjemin buku Biologi yang seharusnya untuk tingkat perguruan tinggi. Buku yang paling mengena di hati saya adalah buku Genetika, menarik sekali mempelajari untaian DNA apalagi kalau bisa merekayasanya. Sejak itu saya bertekad ingin menjadi ahli genetika. Akhirnya harga diri yang tercabikpun terbayar sudah dengan kemenangan saya juara pertama Olimpiade Biologi, sejak itu saya jadi kesayangan si bapak  😀

Saat SMA saya semakin menggila belajar Biologi, tetep menang Olimpiade, bahkan setelah itu diminta untuk membimbing adik kelas yang akan meneruskan perjuangan olimpiade. Selain olimpiade, saya juga rajin ikut cerdas cermat Biologi, dan puncak kegilaan saya adalah ketika masuk 10 besar National Medical and General Biology Competition di UI. Saat itu ada seminar oleh dokter DNA pertama di Indonesia, saya sangat terpesona mendengar penuturan beliau. Saya semakin terpacu untuk masuk kuliah Genetic Engineering.

Saya lupa nama jurusannya apa yang jelas masuk ranah Genetic Engineering, saat saya lulus SMA 2008 jurusan itu belum ada di Indonesia, jadi saya mendaftar ke negara tetangga, Singapura, ke Nanyang Technological University. Saya pun lahap mengerjakan latihan soal A level untuk tes masuk NTU. Sayangnya saya gagal di tahap akhir dan malah terdampar di Farmasi. Tapi kecintaan saya akan Biologi tak pernah luntur, saya tetap mendapat nilai cemerlang di mata kuliah Biologi Dasar. Saya juga memilih skripsi yang masih berbau Biologi di bagian Biomedik dengan fokus studi Neuroscience hingga akhirnya lulus sebagai Sarjana Farmasi dan lanjut program profesi hingga saat ini telah lulus sebagai Apoteker (tsaaaaah 😀 )

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kerjaan skripsi saya menghitung neuron di area hipokampus

Dan bagaimana dengan impian menjadi ahli genetika?

Insya Allah saya akan terus berjuang untuk bisa lanjut S2 meneruskan riset skripsi saya dengan penelitian yang lebih mendalam, meski saat ini saya menunda dulu hal tersebut karena saya sedang fokus mencari kerja agar bisa mandiri secara finansial. Saya tetap update seputar dunia per-genetika-an kok, nyempetin baca jurnal, baca news kesehatan juga, dan tentu saja rajin ngumpulin info beasiswa S2. Saya juga sedang meningkatkan skill bahasa Inggris dan bahasa asing lain (ini susaaaaaah, saya lemot belajar bahasa 😦 ). Saya percaya akan ada waktunya untuk saya mewujudkan impian yang tetap saya pegang erat sejak bertahun lalu itu. Amiiiin 😀

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Kolaborasi : Apa Impianmu?

giveaway-kolaborasi-banner-ii21

Advertisements

36 thoughts on “Giveaway Kolaborasi: Genetika; Cinta Pertama, Terakhir, dan Selamanya

    • hehehe iya, sampai sekarang beliau selalu menjadi idola saya, selain pinter, pinter ngajar juga apa yang dijelasin pasti nempel, ganteng pula…hahaha 😀

      Amiiiin… Insya Allah. Bismillah 😀

  1. Terima kasih sudah ikut GA Kolaborasi….

    Terkait soal genetika sy baru baca buku keajaiban gen karya mazuo mukarami… Buku itu mampu membuat sy sedikit memahami sudut pandang mengenai dna untuk memotivasi diri…

    Salam Kenal

  2. nyaris ga percaya, yang pernah masuk 10 besar nasional olimpiade biologi sempat tidak suka dengan biologi … waw.. for me, that’s really something

    btw skripsi nya udah kelar belum? semangat yok!

    mampir di lapak saya juga ya, rainbowmaniswriting.blogspot.com

  3. Wah, suka genetika ya. Aku juga dulu tugas akhir bergelut dengan DNA, tapi DNA mitokondria. Kalau saya, jatuh cinta sama biokimia. Mirip-mirip lah ya.. Dulu ada kuliah biokimia medis, aku juga seneng kuliah itu ^^. Sayangnya itu cuma kuliah pilihan yg jamnya sedikit. Salam kenal:)

  4. Pingback: Gusti 'ajo' Ramli

  5. Pingback: Pengumuman Pemenang Giveaway Kolaborasi « Akhir Sebuah Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s