[REVIEW] Laskar Pelangi 2: Edensor

image

Laskar Pelangi 2: Edensor

Genre : Drama
Duration : 90 minute
Distributor : Mizan Production, Falcon Pictures
Producer : Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Director : Benni Setiawan
Writer : Benni Setiawan
Cast : Lukman Sardi, Abimana, Astrid Roos,
Mathias Muchus, Rendy Akhmad, Zulfani

Sinopsis
Melanjutkan ceritera Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal, bersama sepupunya, Arai, yang berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Sorbone, Paris.

Petualangan mereka di eropa, justru dimulai dengan sebuah kesialan. Gara gara terlambat tiba di asrama transit yang dituju, Ikal dan Arai diusir oleh Van Der Wall, sang induk semang asrama. Akibat kelalaian itu mereka harus membayar dengan udara dingin dibawah nol derajat. Menembus udara dingin bersalju, tubuh Ikal membeku. Arai berusaha untuk menyelamatkan dengan mengubur Ikal dalam tumpukan humus. Upaya Arai ini menyelamatkan mimpi Ikal.

Ikal dan Arai menjalani hari-hari menimba ilmu di Sorbone. Ikal mengambil master ekonomi dan berkomplot dengan Manooj, Gonjales dan Ninocchka, yang tergabung dalam Pathetic Four. Komplotan yang dibangun karena senasib sebagai rakyat negara berkembang, dan juga sebagai mahasiswa yang tertinggal dalam pelajaran. Walaupun arai beda jurusan, tapi Arai berteman pula dengan anggota pathetic four ini.

Ada hal lain yang membuat Ikal dan Arai cemas. Kabar dari ayahnya menyebutkan timah yang makin melorot dan lahan Belitung yang tak bisa ditanami. Ayah Ikal berharap, Ikal dan Arai bisa menjadi ahli pupuk dan apoteker. Karena, sang ayah beranggapan kalau jurusan itu jauh lebih bermanfaat di Belitung. Tapi Ikal dan Arai terlanjur punya mimpi yang lain. Sementara itu, Katya, gadis yang jadi bahan rebutan para pria di kampus Sorborne ini, mencoba menggelitik relung hati Ikal. Katya memilih Ikal jadi pacarnya. Tapi Ikal merasa amat bersalah, seakan telah menodai perasaannya untuk Aling. Katya bersaing menggantikan posisi Aling dihati Ikal. Namun yang jelas, situasi itu menurut Arai, Ikal tidak lagi fokus belajar. Terbukti, nilai ujian tengah semester Ikal hancur. Kini Ikal terjebak dalam putaran segitiga kehidupannya, cinta, keluarga dan mimpi. Ditambah pertentangannya dengan Arai, yang membuat dua sahabat ini berbeda langkah.

Review
Tetralogi Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang masuk list bacaan saya, menurut saya film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi adalah salahsatu film terbaik yang diangkat dari novel, meski ada beberapa yang dirubah saya tetap puas dengan film tersebut. Sekuel ketiganya tentu menjadi yang saya nantikan di akhir tahun ini. Sayangnya saya harus menelan kekecewaan setelah menonton filmnya, ditengah maraknya film Indonesia berkualitas di akhir tahun, film ini gagal membuat saya terkesan.

Yang pertama kali saya pertanyakan adalah judul, kenapa Laskar Pelangi 2: Edensor? Kenapa tidak Edensor saja? Kenapa juga bukan Laskar Pelangi 3, bukannya ini sekuel ketiga? Entah. Saya tidak tahu (dan malas mencari tahu), juga merasa kurang sreg dengan judulnya.

Banyak sekali part di novel yang benar-benar dihilangkan. Membuat saya bertanya ini beneran based on novel Edensor? Sedangkan part yang menjawab kenapa judulnya Edensor saja tidak ditampilkan di film.

Trailernya terlihat menjanjikan, tapi ternyata sebaliknya. Latar Paris tahun 90-an (kalau nggak salah di buku sekitar tahun segitu, saya lupa sudah lama baca bukunya) terlihat seperti 2013. Dan jangan harap mendapat pemandangan menakjubkan dari benua Eropa seperti dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, karena justru bagian penting dan seru dari novelnya dihilangkan (pembaca novelnya bisa menebak apa 😀 ).

Pengambilan gambarnya cukup baik, musiknya tidak berlebihan tapi terlalu minim juga bagi saya karena hanya musik itu-itu saja yang diulang-ulang. Saya juga merasa perpindahan antar scene masa kini ke masa lalu kurang smooth, terlalu melompat-lompat atau apalah namanya. Saya kurang sreg.

Lagi-lagi saya juga terganggu oleh sponsor yang ditampilkan berlebihan (marak sekali di film-film akhir-akhir ini). Saya tidak tahu, emangnya di Paris ada bank BTN? Ada scene Arai memperlihatkan tabungan BTN. Saya benar-benar tidak tahu bank ini bisa digunakan di Paris atau tidak (kalau ada yang bisa ngasih tahu saya, penasaran. Hehehe), jika tidak maka ini penampakan sponsor yang aneh, mustahil, tidak tepat. Mengganggu tentu saja 😀

Pemilihan pemain sebenarnya tepat, Lukman Sardi tetap menampilkan akting handal sebagai Ikal, pun juga Abimana sebagai Arai mampu mengimbangi akting Lukman sehingga terlahir duet apik antara Ikal-Arai. Pemain ‘bule’ yang dilibatkan sebagai pendukung juga lumayan. Tapi tidak ada aktor/aktris yang memberi kejutan. Terasa biasa. Bahkan hambar.

Yang paling patut diapresiasi adalah penulis skenario yang menampilkan dialog full Perancis dan Inggris sepanjang film antara Ikal-Arai dengan para international student, tidak seperti 99 Cahaya dengan bahasa campur aduk yang sedikit mengganggu. Setidaknya penggunaan bahasa membuat scene tersebut terasa real.

Kemunculan A Ling tiba-tiba di Paris dengan alasan yang kurang kuat terasa sangat mengganggu. Ditambah lagi berkali-kali papasan dengan Ikal tapi tak bertemu muka, atau keterlambatan Ikal datang saat A Ling meninggalkan Paris ditampilkan kurang apik. Terasa seperti sinetron.

Kegundahan Arai-Ikal saat diminta pulang oleh Ayahnya disaat mereka setengah jalan menjalani kuliah master juga kurang terasa. Juga tak ada kisah Arai-Zakiah Nurmala yang padahal sangat saya nantikan (ini subjektif banget karena saya ngefans pasangan ini 😀 ).

Humor yang disisipkan sebenarnya cukup tepat dan lucu tetapi tetap saja terasa hambar. Durasi yang hanya 90 menit terasa sangat lambat (sedikit membosankan), ditambah endingnya yang aneh. Saya sampai bengong, loh udah selesai? Gini aja endingnya? Saya masih bertahan di kursi bioskop mengharap ada tulisan part 2 coming soon (seperti marak di film saat ini 😀 ). TIDAK ADA. Ya gitu aja. Udah. Selesai.

laskarpelangi2-edensor_5

Pembukaan film yang yaaaa gitu deh. Kurang greget.

laskarpelangi2-edensor_3

Keindahan Belitong nampak sekilas pada scene flashback

laskarpelangi2-edensor_2

Ikal kecil dan ayahnya

1387421900929739019

Dialog ayah-anak yang bermakna dalam tapi sayang eksekusinya kurang oke 😦

13874236721058972170_2

Penulis novel pun tak ketinggalan ikut nampang 😀

13874218631914227565

Kemunculan A Ling di Paris dengan alasan kurang kuat dan sedikit “memaksa”

1387421706388367148

Ikal-Arai ngamen di Paris dengan kostum ikan duyung

laskarpelangi2-edensor_4

Icon-nya Paris: Menara Eiffel, sampai bosan lihatnya, disorot mulu.

1387421809907795470

Ikal-Katya, first date

13874217691461591799

Katya yang diperebutkan mahasiswa di kampus malah milih Ikal, sedikit tidak masuk akal tapi mungkin saja terjadi, walau kecil dalam kehidupan nyata 😀

laskarpelangi2-edensor_7

Perpisahan tak selalu diakhiri dengan air mata atau ditinggalkan tanpa alasan, bahkan perpisahan akan lebih melegakan jika diakhiri dengan manis dan tentu saja dengan penjelasan 😀

laskarpelangi2-edensor_6

Ikal-Arai

Saya tidak merasakan spirit Laskar Pelangi yang menginspirasi seperti di film pertama dan kedua, saya tidak menemukan ruh Ikal mencari A Ling ke seluruh pelosok dunia dalam perjalanannya bersama Arai. Hambar. Kurang matang di sana sini. Saya lebih suka visualisasi yang dilakukan Mira Lesmana dan Riri Riza di film pertama. Kalau tidak salah sutradara Edensor ini juga sebelumnya menyutradarai Madre, Madre memiliki ide cerita unik dan menjadi film yang bagus tapi juga terasa hambar dalam beberapa scene. Begitu pula yang saya rasakan di film Laskar Pelangi 2: Edensor ini.

Anda ingin menonton film ini? Silahkan. Tapi lebih baik pikirkan lagi. Saya menyesal tidak menonton Soekarno, The Hobbit, atau 47 Ronnin. Hehehehe 😀

 

 

*Maaf jika reviewnya agak nyinyir, tapi memang itu yang saya rasakan. Saya benar-benar dikecewakan oleh film yang saya nantikan sejak lama.

 

Advertisements

38 thoughts on “[REVIEW] Laskar Pelangi 2: Edensor

  1. hhha, nyesss bgt yee…
    ini salah satu film yg kutunggu-tunggu tik,,
    mlh diblg pikir2 lg klo mo nonton..
    dgn durasi 90menit tentu sj tdk mnampilkan isi buku seutuhnya, plg gak bagian intinya aj…jd dr review kamu, bs disimpulkan film ini emang low budget…
    tp mungkin sy tetep bakal nton, mo merasakan kekecewaan yg udah kamu rasakan, hhi
    semoga team produksi edensor ada yg bc reviewmu supaya bs berkaca untuk pmbuatan sekuel selanjutnya… 🙂
    go perfilman indonesia!

    • Bener…saya nggak masalah kalau beda dari buku dan banyak pangkasan tapiiiiii ya bagian inti di buku ditampilin.

      Nih film kayak sayur kurang garam deh. Hambar 🙂

      Hahaha…kok malah mau ikutan kecewa, mbah. Monggo sih tapi cari gratisan aja biar nggak nyesek atau kalau harga tiket nggak harga liburan. Hehhehe….

  2. saya ekspektasinya tinggi banget loh sama film ini, soalnya dari seluruh buku tetralogi, yang ngambil banyak part struggle dan pencapaian mimpi, petualangan dan sebagainya di edensor ini. cuma saya sedikit trauma sebab bagi saya film ke dua laskar pelangi (sang pemimpi) saja bagi saya sudah terlalu hambar, membosankan, dan tidak mewakili bukunya *pandangan saya*.
    bagi saya tak masalah kalau tak mirip bukunya, akan sulit juga merangkum sekian halaman tulisan Andrea Hirata dalam waktu sependek itu sedangkan cara bertutur beliau saja membuat kita seakan masuk ke dunianya bertahun-tahun bukan cuma sehari-dua hari. tapi…
    kalau seumpama *saya belum nonton dan belum berani* film edensor ini menghilangkan bagian2 penting seperti a.) ikal dan arai terjebak musim dingin di belgia b.) taruhan travelling dengan kawan2nya c.) the pathetic four d.) esensi travelling ke beberapa negara *bahkan lintas benua* (bagi saya justru inilah isi utama dari buku ini) dan yang terpenting adalah harus ada adegan saat ikal ke sheffield kemudian akhirnya jalan2 naik bis, dan dia melihat pemandangan itu, kemudian seorang ibu bilang sama dia “Sure lof, it’s Edensor”. ini nihhh!!
    kalau sampai tak ada adegan ini, apa namanya masih Edensor?? *just saying

    • Travelling, ke edensor semua nggak ada. Terjebak musim dinginnya juga gitu2 aja. 😦

      Film kedua masih jauh lebih baik walaupun mbak bilang hambar. Ini….. Saya nggak tahu deh. Nggak enak juga nyebutnya 😦

      Sedih dan kecewa karena saya juga punya ekspektasi tinggi dan udah nunggu film ini sejak dulu.

  3. ya ampun sampe malu sma temen karena ngotot minta film ini aja yang di tonton padahal pada penegn yang lain. pas di tonton masya allah, jelek banget, bodo, tapi maaf heheh. abis baca novel 7 kali dibalas sama film jelek kayak gitu shit. sumpah

  4. Jujur nton film ini aq harus membuang semua memory ttg novel edensor, kenapa?
    Bener2 g sesuai harapan,….
    Mana petualangannya
    Mana eropa nya
    Mana edensornya….

    Separuh novelnya pun tidak.,,,

  5. Gw nangis darah mbak
    padahal dibela-belain nonton dipenayangan perdana plussss sama bintang filmnya saking senangnya Edensor di Film in, Ya sebagai Andreanis 3 tahun nunggu visualisasinya dan akhirnya mendapatkan hasil yang seperti itu sangat sangat KECEWA

    Saya yakin si sutradara atau penulis skenarionya gak baca fullnovelnya. Baca cepat-cepat mungkin atau apalah itu. soalnya jadi ngawurrr banget !
    Kenapa harus si Benny Setiawan ? dulu sudah merusak Madre sekarang Edensor juga dirusak. Gimana mau lanjutin ke Maryamah Karpov coba ? Aling Di paris, Arai juga masih diparis.
    BENNY SETIAWAN PERUSAK TETRALOGI LASKAR PELANGI

    • Iya saya ngerti KEKECEWAAN kamu soalnya saya juga kecewa. Saya juga nggak suka dia merusak Madre.

      Dan yang paling menyebalkan nih film masih laku. Orang-orang harusnya tahu nih film JELEK.

  6. sekedar koreksi, judul film ini gak salah kok kalo disebut “Laskar Pelangi Sekuel 2”, karena arti dari sekuel adalah lanjutan, berbeda dengan seri.

    jadi simpelnya:

    Laskar Pelangi – film utama
    Sang Pemimpi – sekuel pertama dari LP
    Edensor – sekuel kedua dari LP

    tapi yup, setuju 1000% kalo film ini JELEK, saya bahkan berani bilang lebih kasar lagi, kalo film ini SAMPAH.

    Edensor adalah novel favorit saya, itu menjadi klimaks dari tetralogi Laskar Pelangi, sehingga harusnya kalo film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi itu bagus, logikanya Edensor harus lebih bagus lagi karena merupakan puncak meraih mimpi.

    ternyata saya salah dan terlalu tinggi berharap. alur yang tidak jelas, humor yang garing dan dipaksakan, cerita yang sangat sangat berbeda dari isi novel, ah… semua mengecewakan… gak ada yang bisa dibanggakan sama sekali dari film ini.

    petualangan yang dihilangkan (ketauan banget low budgetnya), dan desa Edensor yang sama sekali gak ada (buat apa diberi judul Edensor?) membuat kekecewaan saya bertambah-tambah… rasanya pingin maki-maki tuh si Benny.

    berharap film ini dibuat ulang oleh Miles, walau keliatannya gak mungkin.

    rating saya 3/10… SAMPAH.

    • Tetep aja kurang sreg dengan judulnya, terkesan mendompleng ketenaran Laskar Pelangi yang emang filmnya bagus.

      Saya setuju dengan apa yang kamu bilang, soal rating saya malah nggak berani ngasih soalnya jelek banget. 3/10 dari kamu udah lumayan banget 😀

      Tapi entah kenapa masih ada yang memuji2 nih film di twitternya. Masih bertahan juga di bioskop. Rese juga sih, kesel lama-lama lihatnya. Emang nggak bisa kasih penilaian jujur langsung sebagai kritik kepada pembuat film? 😦

  7. Saya pecinta musik dan film Indonesia, hampir tidak terlewat menonton film Indonesia apalagi yang berbudget besar dan ramai diperbincangkan, di awal Desember 2013 saya mulai dengan 99 Cahaya di langit Eropa, ya meski datar tapi tidak terlalu mengecewakan, minggu depannya lagi saya nonton Soekarno dan Isyarat, Soekarno keren dan sangat keren, film terbaik 2013 versi Raja Blackwhite. Berangkat ke bioskop dengan ekspektasi tinggi untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, ternyata tidak terpuaskan, terlebih pemilihan Pevita sebagai Hayati, saya rasa Agni Pratishta, Acha Septriasa atau Raihanuun lebih pas. Di minggu keempat ada film Laskar Pelangi 2: edensor, inilah film yang menurut saya paling gagal diantara film-film Indonesia lain yang tayang di bulan Desember. Yach, agak menyesal juga sich nontonya.. *Maju Terus Film Indonesia*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s