[REVIEW] Film 99 Cahaya di Langit Eropa

9999 CAHAYA DI LANGIT EROPA


Genre : Drama

Produser : Yoen K, Ody Mulya Hidayat
Produksi : Maxima Pictures
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Homepagewww.maximapictures.com

Cast:

Acha Septriasa, Abimana Aryasetya, Raline Shah, Nino Fernandez, Dewi Sandra, Marissa Nasution, Alex Abbad, Geccha Tawara, Dian Pelangi, Fatin Shidqia Lubis, Hanum Salsabiela Rais

Sinopsis

Film ini menceritakan pengalaman nyata sepasang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Eropa. Bagaimana mereka beradaptasi, bertemu dengan berbagai sahabat hingga akhirnya menuntun mereka kepada rahasia besar Islam di benua Eropa.

Diangkat dari novel laris karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, film ini mengambil lokasi di 4 negara: Vienna (Austria), Paris (Perancis), Cordoba (Spanyol) dan Istanbul (Turki).
Review

Film yang diangkat dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini dimulai dengan pembukaan yang apik yaitu menceritakan sejarah penaklukan Austria oleh Turki dibawah pimpinan Kara Mustafa Pasha. Sepanjang film mata saya dimanjakan oleh berbagai pemandangan indah di Eropa. Berkali-kali saya takjub akan keindahan arsitektur yang menjadi latar di film ini. Saya mendapatkan sebuah paket lengkap saat menonton, mata yang dimanjakan melalui keindahan setting film yang seluruhnya di Eropa, hati yang disentuh inspirasi melalui pesan luhur menjadi agen muslim yang baik di manapun berada, serta membuka wawasan tentang fakta sejarah yang terabaikan terutama tentang kejayaan Islam di masa lalu. Semuanya ditampilkan begitu sederhana namun sarat makna. Saya menikmati film ini dari awal hingga akhir. Meskipun akhir filmnya sangat tidak terduga yaitu akan ada Part 2. Dari trailer sekilas di akhir film, part 2 memang layak untuk dinantikan.

Akting para pemain film papan atas Indonesia yang terlibat dalam film ini juga terasa pas dan mengalir dengan indah. Salahsatu yang mencuri perhatian saya adalah Nino Fernandez sukses memerankan seorang atheis bernama Stefan , ia sukses menjadi pemain watak yang menguras emosi saya, menyebalkan sekaligus menggemaskan. Selamat, Nino!

Acha Septriasa juga cukup sukses memerankan Hanum Rais, kebosanan Hanum setelah beberapa lama tinggal di Wina tanpa kegiatan, belum lagi kendala bahasa sehari-hari yaitu bahasa Jerman, diskriminasi terhadap muslim dan pendatang, sampai pertengkaran dengan tetangga gara-gara masalah sepele seperti bau saat menggoreng ikan asin mampu digambarkan dengan baik oleh Acha melalui akting apiknya. Cukup membangkitkan emosi dan imajinasi saya tentang kehidupan seorang istri yang mendampingi suaminya S3 di luar negeri sekaligus juga bagaimana menjembatani gap budaya dan menyebarkan kebaikan melalui misi “menjadi agen Muslim yang baik”.

Begitu pula dengan Abimana Aryasetya yang sukses memerankan Rangga, suami Hanum. Ia sukses memerankan suami idaman setiap wanita yang cerdas, penyayang, sabar, humoris, sekaligus memiliki keteguhan iman. Saat Ia dihadapkan kepada pilihan antara mengikuti shalat Jum’at atau ujian yang apabila ditinggalkan akan mengancam kelulusannya, Ia sukses menyadarkan saya bahwa menjadi minoritas itu sulit, apalagi yang tengah diuji adalah keimanan.

Humor yang disisipkan juga ditempatkan dengan porsi sesuai dan tidak berlebihan, cukup membuat saya terhibur, apalagi dialog yang berkaitan dengan Stefan,  mampu menghadirkan perdebatan tentang keberadaan Tuhan secara santai, lucu, tanpa kehilangan esensi sebenarnya dari pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Kehadiran Marissa Nasution, teman kuliah Rangga, memberikan warna tersendiri, ia sukses memerankan seorang perempuan yang ‘menggoda’ keteguhan dan kesetiaan Rangga.

Fatma Pasha adalah tokoh favorit saya di novel 99 Cahaya di Langit Eropa, ia merupakan tokoh penting yang membuka mata (dan juga hati) sang tokoh utama, Hanum Rais, dalam mengenal sisi lain sejarah Islam di Eropa. Ia tak hanya sekedar sahabat dekat tetapi sekaligus juga pemberi inspirasi yang mengubah pandangan Hanum tentang kehidupan. Sosok sederhana yang memiliki ketebalan iman untuk tetap mempertahankan jilbabnya di kota modern, Wina. Memiliki misi menjadi agen muslim yang baik di tempat dimana Islam memiliki image yang kurang baik, dianggap sebagai agama dengan ajaran penuh kekerasan dan identik dengan teroris. Juga ketegarannya saat terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya, Ayse, membuat saya begitu mengagumi Fatma. Saya hanya bisa bilang Raline Shah sangat cantik memerankan seorang perempuan Turki yang berhijab. Meski  saya tidak merasakan Fatma seperti bayangan saya dalam Fatma yang diperankan Raline, saya cukup puas dengan akting Raline.

Ayse yang diperankan Geccha Tawara menarik perhatian saya setelah akting Nino Fernandez yang memukau. Geccha mampu memerankan Ayse dengan sangat baik untuk anak seumurannya sekaligus debutnya di layar lebar. Geccha yang menggemaskan membuat saya ikut terharu dengan keteguhannya untuk tetap berjilbab meski gurunya membujuk untuk melepas jilbab agar ia tak lagi diperolok teman-teman sekelasnya. Ayse yang cerdas dan kritis menyentil Hanum dengan pertanyaan: mengapa ia tidak berjilbab padahal seorang muslimah? Geccha juga sukses membuat saya menangis saat mengetahui ketegarannya dalam menjalani takdir yang cukup berat untuk ditanggung anak seusianya. Selamat, Geccha, saya percaya kamu adalah salah satu aset bangsa yang akan terus bersinar dan mengharumkan Indonesia melalui dunia perfilman.

Dialog dalam film ini menggunakan beberapa bahasa  yang berbeda yaitu Indonesia (paling dominan), Inggris, Jerman dan Turki. Dialog ini agak sedikit mengganggu saya dalam beberapa scene, seperti contohnya Fatma yang seorang perempuan Turki tapi dalam beberapa scene menggunakan bahasa Indonesia. Atau Marion Latimer (Dewi Sandra) yang menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen Perancis, padahal ia seorang perempuan Perancis bukan seorang blasteran Indonesia-Perancis. Ada juga teman-teman Rangga, seperti Stefan dan Khan, yang jelas-jelas merupakan international student di Wina tapi berbicara bahasa Indonesia. Sedikit mengurangi kesempurnaan film ini, tapi cukup bisa dimaklumi mengingat akan sangat merepotkan penulis skenario jika harus menyusun seluruh dialog dalam bahasa asing. Mungkin juga dikhawatirkan akan menyulitkan para pemain sehingga aktingnya kurang total.

Saya juga sedikit terganggu dengan pesan sponsor yang agak memaksa, Marion Latimer yang seorang perempuan Perancis memakai produk kosmetik lokal buatan Indonesia yang jadi sponsor? Agak sedikit tidak masuk akal. Kalaupun harus menampilkan sponsor tampilkanlah secara wajar, seperti Hanum yang memang asli Indonesia cukup masuk akal menggunakan produk ini atau seperti Rangga yang menggunakan ATM sebuah bank nasional. Scene yang juga mengganggu adalah scene Fatin syuting vidoklip kemudian kebetulan bertemu Hanum dan Rangga, menurut saya agak sedikit memaksa, mengingat scene tersebut hanya memperpanjang durasi tetapi tidak mendukung jalan cerita sama sekali.

Namun dibalik semua kelebihan maupun kekurangannya, menonton film ini membuat saya bersyukur hidup di Indonesia, dimana Islam sebagai mayoritas, bebas menjalankan ibadah, tidak seperti Rangga yang dihadapkan pada pilihan mengikuti ujian atau melaksanakan shalat Jum’at. Tidak seperti Rangga yang kesulitan mencari tempat shalat di kampus sehingga terpaksa shalat di ruang ibadat seluruh agama, diantara salib, patung budha, dan asap hio. Tidak seperti Rangga yang harus berhati-hati memilih makanan halal. Tidak seperti Fatma dan Ayse yang menghadapi berbagai kesulitan karena jilbabnya. Sesuatu yang sangat patut disyukuri mengingat kebanyakan dari kita yang terlalu dimanjakan dalam posisi mayoritas di negeri ini dan terkadang kurang menghargai kepentingan minoritas.

Menonton film ini juga membangkitkan kembali mimpi saya untuk melanjutkan studi ke Eropa  Suatu hari saya berjanji akan membuktikan sendiri bahwa Islam pernah begitu kuat menanamkan pengaruhnya di Eropa pada masa kejayaannya bertahun silam.

1

4

acha

Ayse yang menggemaskan

6

Rangga dan Hanum, pasangan yang membuat iri penonton

7

Perpustakaan yang membuat pengunjungnya betah

8

Sungai Danube

9

Bukit Kahlenberg

5

Kampus Rangga

raline

Raline yang begitu mempesona sebagai Fatma

wien-museum-karlsplatz-2nd-turkish-siege-17-02-08

Museum Wina yang Modern. Jauh kalau dibanding museum di Indonesia

Kara_Mustafa_Pasha

Lukisan Kara Mustafa Pasha di Museum Wina

Wien-Museum

Pintu Masuk Museum Wina

bunda-maria-dan-bayi-yesus

Lukisan Bunda Maria.

3

Scene yang paling mengharukan: Abimana adzan di Menara Eiffel

2

Louvre Museum, Paris

Arch in front of the Louvre, with obelisk and Arch de Triumph barely visible in the background through it

Arch de Triumphe, konon katanya menghadap kiblat (Ka’bah)

Wardah-by-barli-asmara4-

Dewi Sandra sebagai Marion Latimer

Champs-Elysées,_vue_de_la_Concorde_à_l'Etoile

Garis lurus melewati Arch de Triumphe, kalau terus ke Timur akan menuju Ka’bah. Tata kota yang sangat hebat.

Secara keseluruhan, film 99 Cahaya di Langit Eropa bisa menjadi tontonan yang cukup menghibur sekaligus menambah wawasan akan jejak Islam di Eropa. Meski film ini kental dengan nuansa Islam, bukan berarti hanya bisa dinikmati umat Muslim saja, menurut saya justru film ini cocok ditonton oleh siapapun, agama apapun, sebagai salah satu tontonan yang bisa memberi inspirasi tentang tolerasi dan sikap saling menghargai antar umat beragama.

Sukses untuk film 99 Cahaya di Langit Eropa. Sukses untuk Hanum Rais dan Rangga Almahendra, terima kasih telah berbagi pengalaman yang begitu menginspirasi. Sukses untuk para sineas perfilman, teruslah berkarya untuk mencerdaskan bangsa. Dan hidup perfilman Indonesia, semoga bisa menjadi tuan di negeri sendiri!

Salam hangat,

Tika

seusai menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa, masih merinding setelah mendengar adzan yang dikumandangkan Abimana di menara Eiffel.

Lihat Trailer:

OST:

Like 99 Cahaya on Facebook: https://www.facebook.com/99CahayaOffi…
Follow 99 Cahaya on Twitter: https://twitter.com/Film99Cahaya
See Behind The Scene 99 Cahaya on Instagram: http://instagram.com/99cahayaofficial

Advertisements

70 thoughts on “[REVIEW] Film 99 Cahaya di Langit Eropa

  1. Baca review ini seolah diajak jalan-jalan ke Eropa dan serasa kembali nonton filmnya lagi 🙂
    Oh ya mengenai bahasa, aku kira itu demi memudahkan pemain filmnya saja. (juga untuk mengakomodir penonton yang malas kalo baca subtitile hahaha). Padahal asyik ya denger para pemain ngomong bahasa asing.

    Tentang pemakaian produk, aku pribadi menilainya masih wajar. Dulu ada film yang memperlihatkan produk cokelat, padahal jelas-jelas filmnya tahun 1920-an apa ya kalo gak salah. Rata-rata film berbudget besar penampilan iklannya agak ‘kasar’ tapi untuk film ini aku pribadi masih bisa memaklumi. Hanya menyayangkan penampilan Fathin saja yang jika dibuang adegan itu ya filmnya akan tetap utuh *tapi lagi-lagi ngomongin sponsor ya dimana Sony Music sponsor film ini juga dan Fathin salah satu artis Sony hihihihi*

    Salam kenal 😉 makasih sudah follow blogku dan maaf komennya kepanjangan ^^

    • hehehe… makasih komennya.

      iya aku juga ngerti sih soal bahasa tapi emang asyik kalau pake bahasa asing kayak lebih real aja gitu *kerja ekstra buat penulis skenario dan pemain 😀

      Tapi tetep aja aneh kalau yang make orang Perancis kecuali kalau emang produk kosmetiknya itu merk internasional baru itu masuk akal.

      Hahaha… I know film apa yang nampilin cokelat itu.

      Scene-nya fathin emang nggak jelas. kalau memang maksa mau masukin fathin ya bikin scene yang dukung cerita gitu, ini cuma jadi sekedar tempelan, terus malah diketawain deh ma penontonnya.

      Hari ini saya abis nonton film-nya lagi loh, hahaha… dapet tiket gratis soalnya sayang kalau nggak dipake, mau dikasih temen udah pada nonton semua, ya udah nonton lagi. asyik jalan-jalan lagi ke Eropa.

      Karena komennya panjang, saya juga balesnya panjang 😆

  2. Pingback: [REVIEW] Film 99 Cahaya di Langit Eropa | Under The Rain

  3. Walau belum nonton, pas baca ini, bahkan mungkin lebih dari film sungguhan!!! Keren, dan aku belum pernah nulis resensi film. Makanya, apa salahnya pemilik blog ini berbagi tulisan …

  4. selalu kritis dlm menanggapi sesuatu smpai detail yg mungkin tdk disadari org lain. review yg mnurut saya cukup mewakili seluruh isi film. smoga film indonesia bisa kembali go international

  5. Wah… Lengkap ya, review nya… gak seperti punya saya. #MalesNulisPanjang

    Saya udah nonton Soekarno juga. Kalo Tenggelamnya Kapal, saya malah gak kepengen liat. Cos, takut ilfil karena efek yang digunakan. #TraumaNontonHafalanSholatDelisa

  6. baru sempet baca sekarang.
    dan, Woaw!
    Mambaca review dari Teteh jadi pengen ke Eropa karena sekedar menikmati filmnya saja rasanya tidak cukup *eh* hahahaa >_<
    Apalagi ada selipan foto-foto yang bikin iri itu.. Duh! Mau nonton filmnya tapi ntar malah semakin patah hati karena aku cuma bisa melihat dari balik layar kaca 😥

    Tapi sepertinya bolehlah ya di tonton, sekedar mengurangi kerinduan pada daratan Eropa dan perairannya yang belum sempat tersentuh :') *labil wkwwkw (y) 😀

  7. hwaa, dr reviewnya, bikin mo nonton..tp terkendala ruang dan waktu,hhe
    tapi tentu lebih seru nonton di bioskop, apalagi disuguhi pemandangan indah eropa..hwaa, pengen kesana,,,
    soal akting pemainx, kmu blg aktingx acha keren, klo sy sih ya..msh menganggap aktingx itu lebay(untuk film2 sebelumx) g tau knp…
    pisss mba acha 😉

    ia tik..soal munculx produk sponsor klo untuk saya cukup mengganggu,
    agak berlebihan n cukup aneh emang tp nmx jg sponsor..ya…hha
    trus soal bahasa, wajar2 aja kali ye, drpd qt yg org indonesia nton make baca subtitle lg..pdhal film indonesia…
    kmu beruntuk tik, udah 2 kali nonton…
    pokoke desember ini, film2x mantap punya, klo saya nungguin edensor …
    klo yg itu mo sy usahain, deh hhhi…

  8. Pingback: [REVIEW] Tenggelamnya Kapal Van der Wijck The Movie | Under The Rain

  9. Mampir….sebagian dari review sy setuju, masalah bahasa yg jd ganjalan dan soal terlalu banyak cameo krn negosiasi dg sponsor…tentang film ini bisa utk semua org, sptnya nggak disaranin,ya…krn ini condong film religi, pasti bnyk pihak yg tdk bisa menerima..cthnya spt adzan di menara eiffel (aneh menurut sy), penggambaran org atheis fundamental, dan bnyk lagi…
    anyway, salam kenal yaa

    • Bisa jadi sih belum tentu diterima di setiap kalangan, tapi setidaknya jika mereka mau menonton bisa menampilkan sisi lain Islam juga 😀 . Seperti halnya karya Dan Brown tetap diminati sebagian umat kristiani. Balik ke selera masing-masing sih.

      Salam kenal juga. Makasih udah baca reviewnya 😀

  10. Haii Tika! Ikutan review buku Bulan Terbelah di Langit Amerika yuk karangan Hanum Rais Rangga Almahendra. Ini link nya: https://www.facebook.com/notes/gramedia-pustaka-utama/review-bulan-terbelah-di-langit-amerika/10153164276006982 hadiahnya ada merchandise lgs dari Amerika looh… Buruaan ya ikutan untuk tahap kedua sampai 1 oktober2014 nanti. Oya jgn lupa nonton 99 Cahaya di Langit Eropa the Final Edition tgl 30 Oktober 2014 yaaa!! ajak kawan kawan menggapai keajaibanNya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s