[REVIEW] Inferno by Dan Brown

infernoTitle: Inferno

Author: Dan Brown

Publisher: Bentang Pustaka

Published: September 2013

Pages: 644p

ISBN: 978-602-788-854-8

Sinopsis

Tengah malam, Robert Langdon terbangun di rumah sakit dan syok saat mendapati dirinya ada di Florence, Italia. Padahal ingatan terakhirnya adalah berjalan pulang setelah memberi kuliah di Harvard. Belum sempat Langdon memahami keganjilan ini, dunianya meledak dalam kekacauan. Di depan mata, dokter yang merawatnya ditembak mati. Langdon berhasil lolos berkat Sienna Brooks, seorang dokter muda yang penuh rahasia.

Dalam pelarian, Langdon menyadari bahwa dia memiliki sebuah stempel kuno berisi kode rahasia ciptaan ilmuwan fanatic yang terobsesi pada kehancuran dunia berdasarkan mahakarya terhebat yang pernah ditulis-Infero karya Dante. Ciptaan genetis ilmuwan tersebut mengancam kelangsungan umat manusia, Langdon harus berpacu dengan waktu memecahkan teka-teki yang berkelindan dalam puisi-puisi gelap Dante Alighieri. Belum lagi, dia harus menghindari sepasukan tentara berseragam hitam yang bertekad menangkapnya.

 

 

Review Saya

Dan Brown, tidak diragukan lagi adalah maestro yang mahir meeramu karya seni, referensi sejarah, dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan menjadi sebuah cerita fiksi menarik. Plot yang cerdas dan karakter yang kuat menjadi ciri khasnya yang paling menonjol. Saya adalah penikmat karyanya sejak lama; Angel & Demons, Da Vinci Code, Deception Point, Digital Fortress, The Lost Symbol, semua telah saya baca dan buku-buku itu membuat saya sulit melepasnya hingga lembar terakhir. Bagaimana dengan Inferno?

 Inferno karya Dan Brown terinspirasi oleh Inferno, part 1-nya Divine Comedy  karya Dante. Saya merasa karya Dante di sini tidak terlalu nyambung dengan tema sesungguhnya yang berbicara tentang senjata biologi untuk mengatasi overpopulasi di bumi. Inferno Dante terkesan hanya tempelan karena kebetulan tokoh Antagonis amat menggemari Inferno-nya Dante dan menggunakannya sebagai petunjuk bagi Langdon. Entahlah saya merasa ada yang tidak sinkron.

Saya juga kurang suka dengan awal cerita di mana Robert Langdon menderita amnesia retrograde. Saya merasa seperti menonton sinetron Indonesia yang amnesia merupakan penyakit “umum”, walaupun di akhir cerita awal mula amnesia Langdon cukup keren (tidak sekacangan sinetron akibat kecelakaan mobil dan mudah pulih lagi dengan hanya kejedot kepala ke tembok :D), tetapi saja pilihan amnesia tidak saya sukai.

Tokoh antagonis? Saya sudah bisa menebaknya sejak awal seorang antagonis terselebung, orang yang membantu Robert Langdon. Biasanya memang selalu seperti itu, tetapi Brown biasanya mampu menyesatkan saya sehingga tetap menduga-duga. Inferno tidak demikian, saya sudah yakin sejak awal dan mencurigai tokoh antagonis tersebut (walaupun ia tidak antagonis murni karena Antagonis yang sebenarnya sudah mati di awal novel). Mungkin ini salah satu yang membuat saya tidak bisa menikmati Inferno, kejutan yang tertebak, karena selama ini saya selalu dimanjakan dengan kejutan dan pengungkapan kode rahasia lewat karya Brown sebelumnya.

Hal yang membuat saya tetap melanjutkan membaca hingga selesai hanya satu hal: GENETIKA yang lumayan banyak dibahas dalam buku ini. Saya menghormati tokoh antagonis yang mati di awal cerita, sangat genius dengan apa yang ia ciptakan sebagai solusi dari teori yang ia kemukakan. Genetika selalu membuat saya jatuh cinta 😀

Dibalik berbagai kelemahan yang saya ungkapkan (murni pemikiran saya yang mungkin berbeda dengan pembaca lain), saya bisa mengambil pesan moral dari buku ini, bahwa saat ini sebagian besar manusia memilih bersikap netral (baca: berdiam diri, tidak peduli, apatis) terhadap sekelilingnya, bersikap acuh pada urusan yang dirasa bukan urusannya padahal sebenarnya menyangkut kemaslahatan umat yang perlu ditindaklanjuti. Acuh terhadap berita bencana di negara lain, seolah itu biasa saja. Melihat korupsi marak di negara ini, hanya bisa mengutuk tanpa solusi, bahkan seringkali ikut andil dalam korupsi kecil semisal korupsi waktu (baca: ngaret :D)

Secara keseluruhan buku ini kurang memenuhi ekspektasi saya terhadap karya Dan Brown yang biasanya selalu memikat (kabar baiknya adalah saya memperoleh buku ini gratis menang kuis di sini, jadi tidak ada penyesalan karena mengeluarkan uang untuk sesuatu yang mengecewakan :D). Saya pikir buku ini adalah karya Dan Brown yang paling tidak menarik diantara karya lainnya. Saya memberi rate 3/5.

Advertisements

16 thoughts on “[REVIEW] Inferno by Dan Brown

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s