Tentang Kata yang Kau Ingkari

Bukankah Tuhan selalu memiliki tujuan pada setiap manusia yang saling dipertemukan? Lalu apa tujuan pertemuan kita? Tujuanmu datang di hidupku yang bahkan lebih singkat dari seumur jagung. Bahkan belum juga aku merayakan setahun tanggal pertemuan.

Lalu apakah kamu akan sama dengan yang sudah-sudah? Seseorang yang salah. Seseorang yang hanya diberi waktu untuk singgah, tapi tak punya hak untuk tinggal.

Bahkan sampai saat ini ketika aku masih ragu, apakah kamu pergi untuk selamanya atau sementara saja? Lalu apa tujuan pertemuan kita? Pertemuan pertama yang begitu manis namun berakhir dengan prahara yang membuatku terlarang bahkan sekedar mengirim pesan singkat untukmu.

Aku tidak tahu.

Sepertinya memang singkat saja aku diberi waktu untuk merasakan (mungkin) seperti inilah rasanya dicintai oleh seorang lelaki. Merasa dijaga sepasang lengan yang tak henti menyalurkan kasih sayang. Yang pertama dan terakhir kali. Kemudian kamu pergi meninggalkanku dalam rasa bersalah yang tak kupahami. Aku tak hendak mencari pembenaran. Tapi jika memang salahku, jelaskan! Andai tak dapat lagi diperbaiki, setidaknya katakan kamu ingin aku yang seperti apa hingga pantas mengharapmu?

Lalu jika masalahmu adalah aku terlalu jujur dengan perasaan, semua semata aku tak tahu lagi bagaimana menahanmu untuk tetap tinggal. Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya, selama ini aku selalu diam menahan rasa yang selalu saja satu arah, atau dua arah awalnya kemudian salahsatu berbalik arah. Bukankah….bukankah kamu yang pernah berkata: “Perempuan memulai tak apa. Perempuan memiliki hak untuk memperjuangkan perasaanya.”

Lalu apa?

Kamu sama saja dengan semua lelaki itu, menganggap semuanya tindakan agresif. Padahal hanya sekali aku mencarimu, mengucap maaf yang bahkan tak sempat terucap karena kamu yang selalu berpaling muka. Mengucap maaf untuk sesuatu yang bahkan aku tak mengerti.

Lalu apa?

Karena kamu tak pernah menjadi aku yang dihantui mimpi buruk setiap malam hingga enggan terlelap. Tak seperti aku yang menahan rindu sambil memeluk lutut, meraung tanpa suara dalam genangan air mata. Lebih baik kamu mencaciku daripada meninggalkanku setelah memperlakukanku seolah kamu menyayangiku.

Apakah aku begitu tak pantas untuk berdiri di sampingmu, menemani perjalanan menuju mimpimu?

 

18 November 2013

Jika kamu masih ingat, masih ada janji yang belum kamu tepati. Setidaknya biarkan aku memiliki rasa, jangan kamu renggut semua, bahkan sekedar hak untuk menunggu kamu pulang. Suatu ketika… Meski itu mustahil jadi nyata, tapi Tuhan selalu punya cara yang ajaib. Kutitipkan kepada-Nya. Pun jika memang aku terlahir untuk sendirian, takdir akan tetap bergulir meski sekuat apa aku menyangkal. 

Aku merindukanmu. Sangat. Entah kamu memberiku waktu pertemuan.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Kata yang Kau Ingkari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s