Pahlawan-Pahlawan dalam Hidup

Ada pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Saya pribadi sependapat kalau pepatah ini juga diterapkan dalam setiap individu, bahwa manusia sejati adalah manusia yang menghargai pahlawan dalam hidupnya, tidak menyangkal sejarah (baca:masa lalu) yang membentuknya hingga hari ini.

Setiap orang pasti setuju bahwa orang tua adalah pahlawan hidup sepanjang usia. Itu sudah harga mutlak. Yang ingin saya bahas di sini adalah pahlawan-pahlwan dalam hidup saya, guru-guru saya yang mengajarkan berbagai pelajaran hidup. Pahlawan yang mengantarkan saya kepada diri saya hari ini.

Pahlawan saya pertama adalah wali kelas saya saat SD, Ibu Nunung. Beliau adalah guru yang sabar menghadapi “anak-anaknya” yang ajaib (maklum waktu itu saya masuk kelas unggulan, kalau nggak salah itu program pemerintah, jadi kelasnya berisi anak-anak dengan nilai akademis yang baik yang dipilih dari berbagai SD dalam satu kecamatan. Anak-anak jenius ini sangat ajaib kelakuannya, maklumlah kadang kejeniusan beda-beda tipis dengan kegilaan. Saya tidak mengklaim diri seorang jenius, saya lebih condong ke gila sih :D). Beliau menjadi wali kelas saya 3 tahun berturut-turut sejak kelas 4-6.

Beliau adalah orang pertama yang menguatkan tekad saya untuk menjadi seorang penulis. Ceritanya saat kelas 5, saya dan teman sekelas mendapat tugas Bahasa Indonesia untuk mengembangkan sebuah pantun menjadi sebuah cerita pendek, nah kebetulan cerita pendek saya menurut penilaian beliau adalah yang terbaik, katanya sih untuk anak seusia saya cerita itu sangat hidup, unik, dan out of the box (terima kasih kepada dosis tinggi kegilaan yang Tuhan berikan :)). Beliau juga yang memperkenalkan saya dengan Harry Potter saat kelas 6 SD, beliau menyarankan kami sekelas membaca Harry Potter. Saat itu saya tinggal di desa yang tak memiliki satupun toko buku (lagian kalau ada saya nggak mungkin sanggup beli mengingat uang jajan saya yang cuma beberapa ribu saat itu, mesti mecahin celengan ayam dulu :)), tapi syukur ada tempat penyewaan buku dan ajaibnya buku Harry Potter ada di sana. Saya lega berhasil menyewa buku itu meskipun harus antri berminggu-minggu, perjuangan antri itu terbayar, saya tidak menyesal membacanya (sampai sekarang Harry Potter adalah favorit saya dan berharap suatu hari bisa bertemu J.K. Rowling karena saya penasaran ingin “mengobok-obok” isi kepalanya :)).

Cara mengajar beliau yang unik adalah setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, kami disuruh berbaris di depan kelas. Ketua murid akan memimpin ritual ini, kemudian satu persatu kuku tangan diperiksa dan setelah itu ketua kelas mengetes topik yang telah ditentukan sebelumnya, misal perkalian angka 9, sejarah, dll. Jika lulus tes barulah kami boleh masuk kelas. Cara ini terbukti cukup jitu untuk membuat kami belajar (apalagi saya yang males belajar dan lebih memilih menonton Amigos. Hahahaha… Anyone remember about Amigos? :)). Kalau gagal tes kami disuruh berbaris lagi ke belakang dan diulang lagi tes selanjutnya, kadang sampai berulang-ulang, dan ada juga yang nggak lulus-lulus tesnya. Terus kalau nggak lulus nggak boleh masuk kelas? Tidak. Kami tetap boleh masuk kelas, tapi kehilangan harga diri karena malu dengan teman-teman lain (itu yang saya rasain sih, soalnya saya anaknya kompetitif banget saat itu, nggak mau kalah dan selalu ingin jadi nomor satu :)).

Prestasi yang pernah saya raih di SD tak lepas dari bimbingan beliau. Terima kasih ibu, saya pernah merasakan menjadi Juara 1 Siswa Teladan se-Kabupaten Ciamis dan peringkat 6 se-Provinsi Jawa Barat, pernah menjadi juara 3 Olimpiade Matematika se-Kabupaten Ciamis, dan berbagai lomba cerdas cermat yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu (saya saat merindukan saat ketika jiwa kompetitif saya begitu tinggi, saya tidak bermaksud sombong loh.  Saya hanya sedang memotivasi diri yang down dan galau dengan masa depan. Saya yakin masih banyak orang yang memiliki prestasi lebih hebat :D). Apa kabar ibu saat ini? Sudah sejak lulus SD saya tidak pernah lagi bertemu beliau karena sejak itu saya sekeluarga pindah ke kota lain. Semoga suatu hari saya bisa bertemu kembali dengan ibu.

Pahlawan saya yang kedua adalah Bapak Amar, beliau adalah guru Biologi saya saat kelas 2 dan 3 SMP. Bapak yang satu ini selain guru Biologi juga menjabat sebagai kesiswaan, terkenal killer dalam menghukum siswa, image beliau ini serem deh. Beliau ini walau serem tapi cara mengajarnya enak banget (susah jelasinnya, harus mengalami sendiri :)), apapun yang beliau katakan mudah diingat bahkan sampai sekarang (entah sihir apa yang beliau gunakan :)). Beliau suka sekali bertanya kepada muridnya, kadang beliau juga menyuruh muridnya menjelaskan topik pelajaran yang sedang dibahas, sialnya saya sering kena (padahal saya bener-bener buta Biologi karena pas kelas 1 guru Biologinya nggak enak banget, nggak ngerti sama sekali apa yang diajarkan, dan males belajar sendiri. Saat itu saya terlalu naif dan hanya mengandalkan penjelasan guru di kelas, jadi waktu belajar saya hanya di sekolah, di rumah itu saatnya main :D). Sialnya lagi beliau cuma kenal saya di kelas (walau awal-awalnya sering salah sebut nama jadi Rika, membuat teman saya yang bernama Rika ikut deg-degan, hahaha…). Maklum lah ya saat itu saya sekolah di almamater kakak saya, saat saya digosipkan (duh kayak artis aja :)) akan masuk ke sekolah itu guru-guru udah pada heboh gitu, kakak saya kan memorable banget kejeniusannya, kesayangan guru-guru deh. Jadi mereka berharap saya juga bisa mengangkat nama sekolah seperti yang dilakukan kakak saya (sayang sekali mereka harus menelan pil pahit karena saya tak sejenius kakak saya. Sebenarnya saya keberatan kalau dibandingkan, saya adalah saya, kakak saya adalah kakak saya).

Balik lagi ke Pak Amar  dengan cara mengajarnya yang sering bertanya itu. Sebenarnya saya kasihan loh sama beliau, gimana nggak, dia doyan nanya saya karena cuma tahu nama saya di kelas (anehnya meski akhirnya tahu nama anak lain tetep aja saya sering dipanggil juga :(), tapi saya nggak pernah bisa menjawab pertanyaan beliau (mungkin karena ini beliau doyan bertanya pada saya, hahaha….). Saya malu sih sebenarnya, emang dasar saya males aja jadinya walaupun sering dipermalukan di depan kelas tetep aja nggak mau belajar biar bisa jawab pertanyaan beliau. Jadilah tiap pelajaran beliau membuat saya pengen bolos (tapi nggak pernah kesampean karena takut dengan reputasi beliau sebagai kesiswaan galak) dan membuat saya agak sedikit sentimen sama beliau. Sampai suatu hari sampailah kelas saya pada pembahasan bab tentang rangka. Dan seperti biasa saya disuruh menjelaskan ke depan kelas. Saat itu saya disuruh menggambar tulang pipa. Sret-sret saya menggoreskan spidol di papan tulis dengan pedenya menggambar apa yang saya anggap tulang. Setelah saya selesai menggambar, tampang beliau terlihat sangat aneh, dengan dahi berkerut beliau mengeluarkan statement yang sangat menohok jiwa raga dan harga diri saya.

“Itu tulang, Tika?  Masa kayak gitu, anjing aja nggak bakal ngiler liatnya. Ya sudah sekarang jelaskan bagian-bagian tulangnya.”

Duh….emangnya segitu parahnya kah gambar saya? Dengan bersungut-sungut, sedikit cemberut, dan muka memerah menahan malu saya menjelaskan tentang tulang. Sejak kejadian itu saya jadi dendam dengan beliau. Saya mulai belajar (keajaiban banget :)) tentang Biologi, melahap buku-buku yang selama ini nganggur. Tekad saya adalah membuat beliau takjub, pokoknya saya harus bisa membuat beliau ternganga saat menjawab pertanyaan. Bahkan saya yang bodoh Biologi nekad ikut seleksi Olimpiade Biologi untuk mewakili sekolah di tingkat kabupaten. Semata karena saya sakit hati dan ingin membalas dendam kepada beliau.

Beliau yang menyusun soal untuk seleksi tersebut, sudah dipastikan soalnya susah. Jadi seleksinya dibagi dua tahap, tahap pertama adalah soal pilihan ganda yang akan menyeleksi siswa yang berminat dan diambil 10 orang kemudian diseleksi lagi pada tahap kedua dengan soal esai, siswa dengan skor tertinggi di tahap kedua berhak mewakili sekolah. Saat melihat saya di seleksi tahap pertama, beliau sedikit terkejut, mungkin dalam pikirannya ngapain anak ini ikut seleksi Olimpiade Biologi.

“Peringkat 10, Tika. Lolos juga kamu ya padahal nggak pernah bener kalau ditanya di kelas.”

Mendengar itu tekad saya menjadi berkali lipat lagi, saya harus menang, saya harus membuat bapaknya terkejut kalau perlu terkena serangan jantung (untungnya tidak :)), kemudian mengakui kemampuan saya sehingga saya bisa tertawa lebar karena berhasil balas dendam.

“Wah nggak nyangka, kamu dapet nilai tertinggi di tahap kedua. Kok bisa sih? Kamu kok kalau di kelas nggak pernah bisa jawab pertanyaan saya?”

Errrrgh, masih saja beliau menyangsikan saya. Sebel banget. Tapi walau begitu tetaplah saya yang terpilih sebagai perwakilan sekolah. Dimulailah berbulan-bulan “kencan” berdua beliau dalam sesi pembinaan sesudah jam sekolah. Sejak itu pandangan saya berubah tentang beliau, saya mulai jatuh cinta (eeeeh jangan mikir macem-macem yeee!!!! Jatuh cinta dengan kejeniusannya, bukan jatuh cinta kepada lawan jenis. Hello!!! Bapak ini udah nikah dan beranak satu saat itu :)). Cinta memang ajaib, setelah hati saya terbebas dari kebencian, mulai ikhlas dan bahagia, ternyata yang diajarkan beliau makin merasuk ke kalbu (ceilah…). Jadilah Biologi menjadi favorit saya. Beliau sangat sabar dan membimbing saya dengan telaten, meminjamkan berbagai buku yang berkualitas. Bayangkan anak SMP disuruh baca Biology-nya J.W. Kimball, 3 jilid Biology-nya Campbell, dan Genetika-nya Suryo (buku terakhir adalah favorit saya karena genetika adalah materi biologi favorit saya, sepertinya beliau tahu itu karena setelahnya beliau rajin meminjamkan koleksi buku genetikanya dan saya senang sekali. Makin cinta deh ma bapaknya :)).

Dan semua kerja keras beliau terbayar saat saya menjadi juara 1 Olimpiade Biologi. Aaaah…senangnya akhirnya bisa membuat bapaknya tersenyum bangga. Sejak itu beliau tidak pernah meremehkan saya lagi. Saya juga selalu bisa menjawab pertanyaan beliau, makin sering disuruh menjelaskan di depan kelas yang kali ini saya lakukan dengan senang hati. Beliau masih rajin meminjamkan koleksi buku Biologinya meski Olimpiade telah berlalu. Saya menjadi kesayangan beliau yang menjadikan saya malah sering memanfaatkan itu untuk bolos, hahaha…. Siapa coba yang berani menegur murid kesayangan guru kesiswaan paling galak dan disegani? (maaf ya, Pak! Maklum lah saya nakal waktu itu :)).

Pahlawan saya yang ketiga adalah guru-guru Biologi saya di SMA, Ibu Sri, Ibu Elin, dan Ibu Ika. Mereka adalah orang-orang hebat yang juga kembali mengantarkan saya menjadi juara Olimpiade Biologi. Selain itu Ibu Elin dan Ibu Ika juga menginspirasi saya bahwa belajar itu tak mengenal usia. Kedua ibu itu di sela kesibukannya mengajar dan mengurus keluarga, masih sempat les bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan sekaligus sebagai tuntutan kompetensi untuk mengajar di kelas saya yang merupakan rintisan kelas internasional sehingga pengantar pelajarannya bilingual. Mereka juga membuat saya termotivasi untuk belajar Biologi lebih rajin dan membuat saya lebih percaya diri karena sering diminta mengajar di klub Biologi, bahkan membimbing adik-adik kelas yang akan ikut Olimpiade. Hal itu saya lakukan dengan senang hati. Terima kasih, Ibu, untuk kepercayaan dan ilmu yang telah diberikan kepada saya.

Pahlawan saya yang keempat adalah seorang teman perempuan yang sebut saja namanya Bunga (ahahaha…bukan berita kriminal ya, tapi karena satu dan lain hal saya tidak bisa menyebut namanya untuk menghormati privasinya). Masa SMA adalah masa tersulit untuk saya (tidak perlu saya ceritakan dengan detail ya karena saya belum siap untuk membaginya), Bunga adalah teman yang menguatkan saya. Bunga rajin mengajak saya shalat sunnah, puasa sunnah, ikut kajian. Bunga juga kerap mendengarkan keluh kesah saya dengan sabar dan selalu berhasil membuat saya tertawa. Sayang sekali saya lost contact dengannya, saya tidak tahu dia dimana sekarang. Saya tidak bisa menghubunginya karena saat kami berpisah dulu dia tidak punya HP (Bunga berasal dari keluarga tidak mampu) dan bodohnya saya lupa menanyakan alamat rumahnya (saat SMA dia tinggal di pesantren yang biayanya gratis sehingga tidak perlu bayar kos karena rumahnya cukup jauh dari sekolah. Dan setiap kali saya minta diajak ke rumahnya, dia selalu menolak, katanya malu karena rumahnya jelek). Terakhir saya bertemu dengannya adalah saat perpisahan, ia memeluk saya dan menangis (pertama kalinya ia menangis di depan saya).

“Tika, saya sedih sekali nggak bisa meneruskan kuliah, padahal saya ingin sekali kuliah tapi mau bagaimana lagi. Orang tua saya tidak mampu membiayai kuliah sedangkan untuk mencari beasiswa juga tidak bisa karena otak saya pas-pasan. Lagian saya harus segera kerja untuk membantu biaya sekolah adik-adik saya. Doakan saya ikhlas, saya tidak boleh egois karena adik-adik saya juga punya hak untuk sekolah. Doakan juga saya bisa kuliah suatu hari nanti.”

Saat itu saya ikut menangis. Saya sangat bersyukur, orang tua saya masih diberi kecukupan rezeki untuk membiayai kuliah saya. Sampai saat ini saya tidak tahu Bunga ada di mana. Terima kasih teman untuk berada di samping saya bahkan saat dunia memusuhi saya.

Cerita pilu tentang anak manusia yang putus sekolah karena kekurangan biaya seolah menjadi biasa di negeri ini saking banyaknya kasus serupa. Tangis Bunga saat itu membuat saya bertekad, suatu hari saya akan mendirikan sebuah yayasan dimana yayasan tersebut akan memberikan beasiswa bagi siapa saja yang punya tekad kuat untuk tetap melanjutkan pendidikan. Saya berharap Tuhan mencacat keinginan saya itu sehingga suatu hari menjadi kenyataan melalui jalan paling ajaib sekalipun. Tidak ada yang mustahil bagi Sang Pencipta. Saya percaya keajaiban akan datang di waktu yang tepat.

Pahlawan saya yang kelima sebut saja namanya Bunga lagi (hahaha….nggak kreatif memberi nama, padahal yang ini laki-laki loh :D). Saya tidak bisa menyebut nama aslinya karena saya malu kalau ketahuan, orang ini sepertinya sering mengintip blog saya (geer…). Dia adalah seseorang yang saya kagumi. Banyak hal yang ia ajarkan kepada saya terutama dalam hal sabar dan dermawan. Dia seorang yang sangat sabar bahkan saat mendengarkan tangisan saya berjam-jam di telepon tanpa penjelasan, dia seolah mengerti bahwa saat itu saya sedang bersedih dan butuh pendengar. Dia juga seorang yang sangat ringan tangan membantu siapa saja bahkan orang tak dikenal. Dia seorang pejuang tangguh, gigih untuk mewujudkan cita-citanya. Dia seorang yang sangat ramah, mudah bergaul, dan senang mengobrol dengan siapapun (tidak seperti saya yang pemalu dan lebih banyak diam, tapi sekarang udah lumayan sih karena saya banyak belajar darinya). Intinya adalah dia guru sabar saya yang utama karena dulu saya orang yang meledak-ledak dan tidak bisa menahan emosi, karena pahlawan saya satu inilah saya menjadi lebih bisa mengendalikan diri.

Pahlawan saya yang keenam adalah Bapak Junaedi alias Pak Jun, pembimbing skripsi saya, dosen yang saya kagumi sejak pertama kali saya bertemu dengannya saat mengajar Biologi Dasar di semester 1. Saya jatuh cinta pada pertemuan pertama (lagi-lagi ya ini jatuh cinta seperti saya jatuh cinta kepada Pak Amar). Di mata saya beliau begitu seksi (ahahahahaaha…..) dengan kejeniusannya saat menjelaskan materi genetika yang saya cintai (pada usia muda beliau sudah mendapat gelar doktor dari Jepang). Entah kenapa saya selalu jatuh cinta dengan orang-orang yang jenius, bagi saya orang jenius itu lebih seksi daripada lelaki dengan perut sixpack, lebih menarik dari lelaki good looking macam David Beckham. Sejak saat itu tiap pelajaran beliau saya selalu mencari-cari perhatian, walaupun saya sudah mengerti dengan materi yang beliau jelaskan (Thanks God, beliau juga memeliki kemampuan seperti Pak Amar yang menjelaskan materi sehingga mudah dimengerti dan merasuk ke kalbu sehingga selalu diingat) saya tak pernah absen mengajukan pertanyaan, semata karena saya ingin menguji kejeniusan beliau. Beliau selalu menjadi dosen idola saya.

Sampai tiba saat skripsi, saya yang bingung memilih akan skripsi di departemen mana menutuskan memilih Departemen Farmasi Klinik dan memilih beliau sebagai dosen pembimbing. Saya tidak peduli dengan peringatan kakak kelas dan selentingan yang beredar bahwa beliau adalah dosen pembimbing yang nyinyir, galak, ah pokoknya serem (dan memang terbukti, saya sering kena semprot, hahaha….). Saya semakin mengagumi beliau (walau kadang kesel juga kalau udah marah-marah :D), kejeniusannya semakin terpampang nyata, kalau beliau sudah menjelaskan saya cuma bisa nganga aja saking kagum (setengahnya adalah tidak mengerti karena level ilmu yang jauh berbeda) sampai-sampai saya gelagapan dan speechless kalau ditanya-tanya, pasrah dibantai, revisi berulang yang tak terhingga, huaaaa…. Tapi saya bersyukur karena bisa menghasilkan skripsi yang cukup berbobot (menurut saya :D) dan berhasil lulus S1 tepat waktu.

Beliau ini sangat murah hati berbagi ilmu, meski judulnya adalah bimbingan skripsi, beliau tidak keberatan menjelaskan kembali tentang Diabetes Mellitus yang njelimet naudzubillah menjadi lebih singkat dan gampang dicerna hanya dalam selembar kertas HVS yang bahkan saat saya melihat kembali coretan-coretan beliau saya masih mengingat apa yang dijelaskan beliau (hebat kan beliau? Jenius!!!). Jadilah saya sukses menjalani ujian fakmakoterapi karena beliau. Kertas HVS sakti itu bahkan masih saya simpan sampai sekarang :D.

Sebelum ujian skripsi beliau bahkan menyempatkan diri di hari Sabtu (yang seharusnya untuk istirahat dan waktu bersama keluarga) untuk memberikan simulasi sidang skripsi. Presentasi saya saat itu dibantai habis, katanya saya kurang menjiwai dan tanpa ekspresi (duhhh pak kayak maen drama aja :D). Pertanyaan-pertanyaan cerdas beliau juga banyak yang tidak bisa saya jawab, membuat beliau kesal dan akhirnya menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan (hahaha….tapi saya bersyukur sekali karena ternyata banyak pertanyaan beliau yang juga ditanyakan penguji saya yang tidak kalah jenius dan killernya dari beliau. Karena semua jawaban beliau saya catat baik-baik, akhirnya saya sukses melewati pembantaian bernama sidang skripsi selama kurang lebih 2 jam itu).

Sebenarnya masih banyak pahlawan-pahlawan lain dalam hidup saya, lain kali mungkin saya akan meneruskan berbagi tentang mereka. Kalau ingat pahlawan-pahlawan hidup tersebut membuat saya merasa berdosa saat sedang down (baca: galau dengan masa depan) seperti saat ini.

Saya tidak boleh menyia-nyiakan apa yang telah diberikan pahlawan-pahlawan hidup saya. Meski saat ini saya merasa berat sekali untuk survive, saya pernah melewati fase kehidupan yang lebih berat sebelumnya. Jadi tidak alasan untuk menyerah kan? Saya hanya harus meningkatkan kesabaran, setelah kesulitan akan ada kemudahan. Hanya soal waktu. Semoga saya bisa bertahan melewati ujian dan membuat bangga para pahlawan hidup saya yang luar biasa. Meski dunia sedang menentang saya, saya harus bertahan dengan apa yang saya yakini selama itu di jalan yang benar. Terkadang menjadi berbeda memang menyakitkan, tetapi Tuhan tidak akan menyia-nyiakan segala perjuangan dan akan membayar semua kesakitan dengan kebahagiaan.

Semangat untuk semua!!!

-Tika, yang sedang berjuang untuk terbebas dari belenggu kegalauan akan masa depan-

Advertisements

22 thoughts on “Pahlawan-Pahlawan dalam Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s