Pohon Beringin dan Tali Jemuran

“Sayangnya kamu bukan pohon beringin tapi tali jemuran….”
Ini menarik. Aku mulai memusatkan perhatian dan menunggu kelanjutan pernyataan aneh itu.
“Pohon beringin itu punya akar gantung tak terhingga. Semuanya hanya terikat pada dirinya, ujung lain menjuntai bebas. Sedangkan tali jemuran kedua ujungnya terikat.”
Ah…semakin absurd. Aku mengerutkan kening. Apa hubungan pohon beringin, tali jemuran, dan diriku?
“Andai kamu mencintai seperti pohon beringin, pasti lebih mudah luka-luka itu dibenahi.”
Ah luka lagi yang dibahas. Biarkan saja kuhadapi ini sendirian. Hentikan!!!
“Pohon beringin melepaskan simpul-simpul. Untuk apa mempertahankan seorang yang membuangmu? Sedangkan tali jemuran terikat kuat, sepertimu yang selalu sulit melepaskan simpul.”
Entahlah.
Mungkin aku yang tidak waras. Memelihara luka. Mempertahankan kemustahilan. Aku bukan pohon beringin. Bukan pula tali jemuran.

Aku hanya perempuan anomali yang tak tahu diri. Bukan sesiapa yang pantas mengharap seorang yang “hidup”. Aku sudah “mati” sejak hari pertama ditinggal pergi.

Advertisements

38 thoughts on “Pohon Beringin dan Tali Jemuran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s