Tangis Diam-Diam pada Tengah-Tengah Malam

Aku tak pernah tahu alasan di balik setiap tangis diam-diam pada tengah-tengah malam. Atau memang tak ada? Seperti juga aku yang tak butuh alasan untuk mencintaimu. Dan di setiap tangis diam-diam pada tengah-tengah malam, sesak membuncah di dada kiri. Seolah seluruh isinya mendesak hendak keluar. Namun yang terjadi, sesak di dada kiri itu semakin tak terkendali, berlarian. Kejar-kejaran dengan bulir air yang menetes perlahan di sudut mata. Dan aku mulai meringkuk memeluk lutut, semata agar dadaku tak meledak karena sesak yang tak terbendung.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa kehilanganmu akan menyisakan sakit yang maha dahsyat. Apalagi kekosongan di sela jemariku semakin menguatkan jejak jemarimu yang pernah selintas menyalurkan hangat. Bahkan bayanganku hanya sesosok kuyu hampir tanpa nyawa. Yang tersisa hanya kosong dan sedikit sisa wangi tubuhmu pada bantal dimana kamu pernah berbaring diatasnya. Dan tak ada yang lebih menyiksa dari cinta yang kamu buang begitu saja dalam kantung plastik hitam, bercampur dengan sisa-sisa bungkus mie instan dan botol soda kosong.

Entah dengan cara apa aku bisa menarikmu kembali, memangkas jarak kita yang semakin merenggang. Apakah kamu menerima paket rindu yang kutitipkan pada setiap tetes hujan di kotamu? Tak bisakah kamu rasakan sejenak bisikan cinta yang disiulkan burung-burung di pagi hari? Atau sederhana saja, pernahkah kamu memikirkanku? Atau sekali dua kali pernahkah aku diperbolehkan menelusup dalam mimpimu suatu malam? Sementara aku bertahan dalam siksa cinta, rindu, pun mimpi-mimpi yang membuatku takut terlelap. Sendirian.

Dan aku telah menjelma menjadi perempuan kebanyakan yang terlalu takut sendirian. Padahal sebelum bertemu denganmu, aku begitu menikmati kesendirian, berkawan akrab dengan sunyi, sesekali menyanyikan sepi sambil menari seharian.

Tapi aku terlanjur terasing dalam diriku saat ini, aku di masa lalu telah lebur sama sekali. Aku saat ini semakin merapuh, perlahan bergantung padamu, semakin lama semakin kecanduan, tapi kamu justru meninggalkanku begitu saja. Membuatku sakau. Kesakitan.

Dan apalagi yang bisa kulakukan? Selain menunggu keajaiban diantara kemustahilan. Meski aku harus setia menangis diam-diam pada setiap tengah-tengah malam sepanjang waktu aku menunggumu. Jika memang itu harga yang pantas kubayar. Entah sampai kapan.

Sekali saja kumohon padamu, jangan menyerah memperjuangkanku. Demi rasa apapun yang pernah hadir diantara kita. Demi apapun…

Itu saja. Lebih dari cukup…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s