Keisengan Berdialog dengan Diri Sendiri

Tetiba saja hari ini begitu banyak pertanyaan muncul dalam diri saya, tentang masa lalu, sekarang, dan masa depan. Pernahkah kamu meluangkan waktu, bertanya, mengobrol, dialog (monolog), atau apapun istilahnya dengan dirimu sendiri? Kalau TIDAK, cobalah lakukan! Serius ini asyik dan bikin ketagihan 🙂

Hal yang paling diingat dari masa kecil

Saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara, tapi adik perempuan saya datang terlambat yaitu ketika usia saya 10 tahun. Jadilah selama 10 tahun terakhir saya tumbuh bersama 2 orang kakak yang semuanya laki-laki. Kakak pertama (yang saya panggil Aa) adalah malaikat yang selalu membela saya dari kejahilan kakak kedua saya (waktu itu saya sering berantem dengan kakak kedua yang berujung saya nangis. FYI sampe sekarang saya masih sering berantem dan tidak pernah memanggil kakak kedua saya dengan sebutan kakak, just call his name >> betapa tidak sopannya saya, tapi memang itu menyenangkan :)). Kakak pertama saya juga inspirasi dan panutan saya saking banyak prestasinya, saya tidak pernah bisa mengalahkan kejeniusan Aa. Punya 2 kakak lelaki dan sekian tahun bertumbuh bersama mereka membuat saya cuek dan tomboi (tapi tidak sejak kuliah, saya mulai feminim dan melakukan ritual perawatan layaknya perempuan gara-gara terkontaminasi seorang sahabat dekat saya :))

Sejak usia kurang dari 5 tahun saya sudah bisa menulis, membaca (latin dan al-Qur’an), menggambar (terima kasih untuk mama yang hebat bisa membuat saya serba bisa pada usia balita :)). Jadi saat saya sudah bisa membaca itu, setiap pagi saat baru bangun tidur (dengan hanya memakai pakaian dalam. Hahaha. Ini juga keanehan saya nggak suka pake baju kalau di rumah, eits tapi itu pas balita aja) yang pertama kali saya lakukan adalah membaca. Dan apa yang saya baca? KORAN. Ya, koran langganan ayah saya yang bahkan saat membaca tubuh balita saya tenggelam diantara lembarannya, Pikiran Rakyat dan koran Sunda Galura. Walaupun saya tidak mengerti apa isinya, saya senang saja dan membaca dari halaman pertama sampai akhir. Entahlah, saya begitu tergila-gila dengan huruf, bahkan jika saya ikut mama mengajar di SD saya akan menangis kalau tidak diberi buku, tapi dengan 1 buku saja saya akan anteng duduk di bawah meja guru sambil membaca seharian sementara mama saya mengajar di kelas. Saya juga senang menggambar (walaupun gambarnya benang kusut) di manapun, dari mulai buku gambar sampai dinding rumah. Selain itu saya senang mewarnai, kalau ini entah kenapa sudah rapi dari kecil, rapi nggak keluar garis, sampai saya juara mewarnai nasional tingkat TK (sertifikat entah dimana, sudah lama sekali).

Saya sangat pemalu dan cengeng waktu kecil (sekarang juga masih sih, hihihihi). Saya kadang nggak suka bergaul (ceilah balita bergaul) dengan orang yang nggak begitu saya kenal, di saat Lebaran berkumpul dengan saudara, saya malah ngintilin mama ke mana-mana. Saya suka sendirian sejak kecil, lebih banyak berdiam diri di kamar, kalau nggak tidur ya baca buku (si mama ngidam apa ya pas hamil saya?). Tapi yang paling fenomenal dan diingat orang sampai sekarang (jadi malu *tutup muka*) adalah kecengengan saya, gampang nangisan. Kalau stok coklat saya habis: nangis (ini udah dibahas di postingan sebelumnya, silahkan ubek-ubek kalau mau), jatuh: nangis, dijahilin kakak: nangis, pengen mainan: nangis. Terus pernah juga saya ke rumah sodara nggak mau masuk, terpaksa mama saya menemani di depan rumah, terus saya nangis pengen beli bantal pas liat toko kasur-bantal di samping rumah sodara saya, alhasil mama saya terpaksa beli bantal. Nangis saya itu bukan nangis biasa, nangis kenceng dan lama. Sampai sekarang masih keluar pertanyaan, “Eh ini neng Tika yang dulu suka nangis? Udah gede ya.” atau “Eh sekarang udah nggak suka nangis kayak dulu kan?” Mamaaaa!!!! Pengen kabur atau mengubur diri, ngumpet aja. Malu!!!!

Saya juga suka menulis cerita sejak kapan? Nggak inget tepatnya. Tapi sejak dulu saya rajin nulis diary. Dan baru sadar punya bakat (hahaha…ngaku-ngaku) sejak kelas 5 SD dimana guru saya sering memberi tugas menulis puisi dan cerita, saya selalu menduduki posisi terbaik di kelas. Saya juga masih ingat guru saya memuji dongeng yang saya tulis berjudul Tikus dan Kucing (sayang catatan dongengnya hilang, jadi saya tidak bisa menganalisis seperti apa tulisan saya dahulu), kata beliau tulisan saya ini out of the box tidak seperti tulisan anak-anak pada umumnya (sepertinya saya sudah aneh sejak lahir :D)

Ya, seperti itulah masa kecil saya. Ceria tanpa beban seperti anak lain. Seederhana di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Maen sepeda, maen di sungai, maen kasti, petak umpet, masak-masakan, dan berbagai permainan tradisional adalah keseharian saya. Kadang nakal suka jahilin teman, bahkan pernah sampai jambak-jambakan, dan kenakalan lainnya (tapi nggak sampai nyolong mangga tetangga atau sendal jepit di mesjid :)).

Kenapa saya memilih kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya?

Itu pertanyaan yang sering muncul dari orang-orang penasaran bin kepo. Sederhana sih pertanyaannya, tapi jawabannya tidak sederhana. Menyebalkan. Maaf saya tidak bisa menjawab karena itu terlalu privasi. Saya selalu percaya bahwa kenapa saya terdampar di kota ini adalah kombinasi takdir, ketidaksengajaan, dan sedikit campur tangan dari keputusasaan juga saran dari seorang teman (bingung-bingung deh). Intinya saya merasa tidak sia-sia kok terdampar di sini dan saya bertumbuh lebih bijaksana di sini (ceilah…sok iye banget, padahal masih sering childish juga :D)

Ritual saya setiap hari

Sejak lulus kuliah dan resmi menjadi pengangguran karena udah 5 kali keterima kerja kemudian semuanya saya tolak (hahaha…tak tahu diri!!! Lain kali saya sepertinya harus bercerita di post lain soal penolakan -penolakan yang saya lakukan itu), aktivitas harian saya jadi kurang jelas. Tidur tidak teratur, makan tak teratur (nggak juga sih karena sebenarnya saya lagi diet :D), olahraga tak teratur, mandi jarang-jarang. Nggak jelas lah pokoknya. Yang pasti jelas adalah mengecek timeline facebook, twitter, line, whatsapp, kakaotalk, wordpress, gmail, dan segala sosial media setiap berapa jam sekali. Sesekali ngepost di wordpress, berulang kali ganti status di medsos, foto-foto selfca di handphone terus diupload instagram. Intinya menikmati hidup (selama masih dalam tanggungan ortu, dih nggak punya malu banget ya!)

Apa kebiasaan buruk yang sangat ingin saya singkirkan?

Saya bingung kalau ditanya ini, bukan karena tidak tahu kebiasaan dan sifat buruk saya, tapi saking banyaknya mana dulu yang harus disingkirkan. Dan belakangan pertanyaan ini sering muncul di job interview yang saya ikuti, saya mesti memilih jawaban yang bijaksana karena perusahaan pasti kabur kalau calon karyawannya sangat banyak kebiasaan buruknya.

Ehem…jadi pertama PERFEKSIONIS, sebenarnya saya bingung ini kelebihan atau kebiasaan buruk, soalnya kadang ini juga berguna sehingga apapun yang saya lakukan selalu saya usahakan yang terbaik, tapi terkadang saya pusing sendiri kalau segalanya di luar kendali. Mungkin saya perlu menempatkan saja kapan waktu yang tepat untuk menjadi perfeksionis karena dulu (iya dulu, sekarang udah jarang) bahkan semisal baju ilang kancingnya satu aja bisa bikin mood saya turun ke lembah terdalam dan membuat saya uring-uringan sepanjang hari.

Kedua, INGATAN KUAT, loh? Bukannya itu kelebihan? Ya tapi terkadang itu jadi boomerang yang bikin saya susah move on. Bikin bete saat cuma saya yang inget seseorang pernah menjanjikan sesuatu dan si orang yang janjiin lupa jadinya ingkar janji, Inget semua omongan gebetan (ups), inget nomor hp (cuma 2 nomor yang selalu saya ingat: mama saya dan gebetan saat ini, hahahaha….), inget nggak punya duit, inget buku incaran, inget segala hal….aaaaaaaaaaah menyebalkan pokoknya (sekaligus bersyukur karena saya mudah ingat pelajaran kecuali jalan sering kesasar).

Ketiga, MALAS. Males belajar, males mandi, males makan, males olahraga, males-malesan senengnya. Males memulai sesuatu tepatnya tapi kalau udah mulai nggak bisa berhenti. Seperti nulis di blog ini, butuh waktu untuk bergerak ke laptop dan mulai mengetik, tapi pas udah nulis pengennya seribu post saat itu juga (tapi nggak jadi karena saya takut didemo orang sedunia per-wordpress-an).
Keempat, sudah ah kebanyakan….pokoknya kayak gitulah, kalau mau kenal lebih dekat silahkan hubungi contact person aja (mulai gila!!!)

Cita-cita sejak kecil

Nggak pasti sih karena berubah-ubah terus. Pernah ingin jadi guru (sekarang juga sih pengen jadi guru TK karena saya suka sekali anak-anak). Pernah ingin jadi dokter, pianis (sejak kecil terobsesi dengan piano gara-gara nonton Petualangan Sherina, tapi sampai sekarang nggak pernah kesampaian belajar piano, tolong lah yang bisa ajarin saya dong!), pengen jadi menteri (serius saya pernah bercita-cita ingin jadi menteri kesehatan atau pendidikan bahkan sampai SMA saya sering becandaan sesumbar dengan teman kalau saya ini calon menteri, haha…)

Tapi cita-cita yang paling konsisten sih pengen suatu hari kuliah S2 ke Eropa (entah kapan karena sesuatu dan lain hal itu harus ditunda saai ini), pengen punya anak cewek yang rambutnya keriting (hello! nikah aja belom. Hello lagi! Boro-boro nikah, gue kan jomblo :D), pengen punya suami yang bisa nyanyi dan maen alat musik biar dinyanyiin tiap malem (Hello!!! Ih apaan sih biarin lah namanya juga cita-cita. Tapi belakangan saya sadar kok pasangan itu nggak usah muluk-muluk yang penting beragama dan bertanggung jawab), pengen punya rumah mungil dengan pohon apel di halamannya, dan pengen travelling ke seluruh dunia (amin….)

Terus kalau karir?
Ya, saat ini saya ingin jadi penulis (terus kenapa lo kuliah farmasi? Dih biarin lah suka-suka gue), walaupun nggak pernah (belum) berani nerbitin karyanya, belum punya prestasi membanggakan, dan nggak pernah jadi-jadi kalau bikin novel. Tak apalah. Suatu hari…

Lima benda yang selalu saya bawa kalau bepergian

Hp Samsung Galaksi Wonder tercinta dan satu-satunya. Novel. Tisu. Notes+pulpen. Dompet. Kosmetik (Hello! Gue cewek ya jadi wajar aja. hihihi). Mukena. Eh lebih dari lima. Biarin lah…..

Hal tentang diri saya yang tidak diketahui umum dan jika saya katakan mungkin mereka kaget. 

Apa ya? Jangan ah nanti semua orang pingsan berjamaah. Saya orangnya sangat aneh sih terlalu banyak hal yang juga saya rahasiakan. Biarkan saja tetap menjadi rahasia. Karena rahasia akan lebih indah untuk dinikmati saat ia tetap menjadi rahasia.

Lima judul buku yang memberi kesan mendalam dan mengubah hidup

Kalau ngomongin buku banyak banget, bingung. Ok, saya coba…
Pertama, Rectoverso karena lewat buku itu saya mengenal seseorang, paling suka bagian Curhat Buat Sahabat.
Kedua, Perahu Kertas karena Keenan itu mirip banget ma cowok ideal versi saya.
Ketiga, Harry Potter, selain bukunya bagus juga mengajarkan saya bersabar menunggu setiap serinya keluar termasuk juga bersabar menabung sampai uang saya cukup untuk membeli bukunya.
Keempat, Supernova, sebenarnya buku-buku Dee selalu membuat saya terpana dan terinspirasi. Dari seluruh seri tokoh favorit saya adalah Elektra.
Kelima, Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya, berapa kalipun mengulang membaca saya selalu menangis, tokoh novel ini begitu banyak kesamaan dengan saya, tapi saya berharap tidak berakhir tragis seperti dalam novel tersebut.
Keenam, eh cuma lima ya? Ya udah deh lima aja, kali ini saya mau nurut. Nanti lah lain kali saya bikin post tersendiri tentang koleksi buku-buku saya.

Siapa penulis yang saya bayangkan jadi suamimu? Kenapa? 

Nggak pernah membayangkan suami saya seorang penulis. Tapi saya pernah iri kepada Hanum Rais gara-gara membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, saya iri Mbak Hanum dan Mas Rangga begitu….apa ya? Sangat pasangan jiwa lah. Dan saya juga ingin tinggal di luar negeri, boleh lah menemani suami S2, hahahaha…. Amin.

Sesuatu dalam diri saya yang sampai saat ini membuat saya kaget 

Feeling saya terhadap orang yang tidak baik, Jadi begini ceritanya, teman-teman saya saat punya gebetan (calon pacar atau suami) sering mengenalkan kepada saya. Dari saat pertemuan pertama sekalipun kalau orang itu nggak baik saya bisa mengetahuinya, biasanya saya langsung memberi tahu teman saya, teman saya nggak pernah percaya, sampai akhirnya apa yang rasakan terbukti dan mereka cuma nangis-nangis terus saya yang repot menemani teman yang patah hati. Eits, tapi jangan berpikir saya punya kekuatan supranatural. Sama sekali tidak. Saya juga bukan seorang yang bisa membaca pikiran atau gesture tubuh orang lain sehingga tahu sifat dan kepribadiannya. Saya juga nggak tahu kenapa, pikiran itu selalu datang selintasan saja saat saya dikenalkan dengan gebetan teman saya, anehnya kemampuan itu tidak berlaku kalau saya yang punya gebetan. Mungkin karena bakat ini lah akhirnya saya sering jadi mak comblang, banyak yang udah jadian, ada yang udah menikah dan mau menikah, sayang sekali saya sendiri tak terlalu beruntung dunia persilatan eh percintaan (malah curhat)

Sekian hasil dialog (atau monolog) saya dengan diri sendiri. Segini saja. Sangat berbahaya untuk menceritaka seluruh isi pikiran absurd saya. Salam hangat, selamat hari Jum’at, dan tetap SEMANGAT!!!!

Keajaiban, sekecil apapun, kadang datang di tengah kemustahilan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s