Kisah Bahagia yang Berubah Memilukan

Setiap kisah bahagia kemudian berubah menjadi kisah memilukan, akankah kembali menjadi kisah bahagia lagi?


Hari ini aku merindukanmu tanpa henti, aku tak tahu kerinduan macam apa hingga menguras seluruh cadangan energi. Aku tahu kamu di mana, mudah saja menemuimu. Namun yang terjadi tak sesederhana itu. Apa yang harus kulakukan?

Mungkin kamu sudah lupa akan kisah bahagia yang pernah terjadi antara kita. Maukah kamu mendengarnya kembali? Aku akan bercerita ulang agar kamu mengerti apa yang kamu anggap “biasa” dan “tak berarti itu” lebih dari sekedar istimewa untukku.

Ah tapi kisah bahagia ini berakhir memilukan. Aku akan bercerita tapi kamu harus berjanji terlebih dahulu untuk tidak menangis. Ah, tapi mana mungkin kamu menangis. Kamu terlalu egois bahkan untuk mengakui perasaan sendiri. Jadi anggap saja orang sepertimu tak akan pernah menangisi hal sepele seperti ini.

Ingatkah kamu saat pertama kali jemarimu menelusup diantara jemariku? Erat kamu genggam jemari kananku, lembut belaianmu dipunggung tanganku. Saat itu ribuan kupu-kupu mengepakkan sepasang sayapnya dalam perutku bahkan sampai saat ini ketika semua itu tinggal kenangan yang hanya tertinggal dalam sudut-sudut ingatanku. Hangat. Entah kenapa jemari panjang-panjangmu begitu pas di sela jemari mungilku. Hangat. Adakah Tuhan menciptakan jemarimu secara presisi dan akurasi tinggi agar begitu pas untuk menelusup diantara jemariku?

Kemudian kupu-kupu pengepak sayap di perutku itu semaking menggila, bertambah banyak saja. Tak hingga. Saat itu kamu memeluk pundakku, menyandarkan kepalaku di dadamu yang lapang. Bahkan seluruh ruang serasa membeku, begitu juga waktu. Dan mungkin juga otakku, aku tak lagi mampu memikirkan selain kamu yang erat memelukku dan hangat jemari yang masih setia menggenggam jemariku.

Dan kamu semakin menjadi. Perutku bergolak makin tak terkendali. Kamu meletakkan kepalaku di atas kedua tungkai panjangmu. Jemari satumu yang bebas membelai lembut kepalaku. Kukatakan sebuah rahasia padamu: saat itu adalah tidurku yang paling nyenyak sepanjang usia. Tanpa mimpi buruk. Wangi tubuhmu lebih menenangkan dari seluruh aromaterapi yang pernah kuhirup. Belaianmu entah kenapa kurasakan ketulusan, atau aku salah?

Aku tak mengerti apa yang sedang kamu lakukan saat itu. Menunjukkan perasaan ataukah terbawa suasana? Bisa jadi hanya keisenganmu juga. Maafkan aku berburuk sangka padamu yang entah kenapa sulit sekali menjelaskan maksud dari semua perlakuan melenakan itu. Apapun itu aku tak peduli. Aku akan katakan rahasia selanjutnya yang perlu kamu tahu. Percaya atau tidak sepanjang usiaku lebih banyak manusia yang memperlakukanku dengan tidak baik, banyak hinaan, caci maki, dan segala kekejaman yang kuhadapi sendirian. Perlakuanmu itu meluruhkan semua ketidakpercayaanku pada kasih sayang. Aku ingin menangis. Jadi seperti ini rasanya dicintai, dijaga oleh seseorang…. Andai saja kamu bersedia untuk menjagaku selamanya.

Ah, tapi seperti juga kisah-kisah yang lalu, semua kisah bahagia yang menghampiriku selalu saja meninggalkan luka yang harus kubenahi sendirian. Tak ada hidup bahagia selamanya seperti dongeng-dongeng pengantar tidur di masa kanak-kanak. Kisah bahagia itu berubah menjadi kisah memilukan pada akhirnya.

Kamu pergi. Meninggalkanku dalam kenangan indah yang menyakitkan. Setiap kali aku mengingatnya, setiap kali aku merindukanmu, kenangan itu tanpa terkendali mengambil semua kewarasanku. Aku mulai meringkuk di sebuah sudut gelap. Berbaring memeluk lutut demi menahan kesakitan di dada sebelah kiri. Megap-megap menghirup udara demi meredakan sesak yang melebihi penderita asma. Jangan tanya seberapa air mata yang keluar, lihat saja tempatku berbaring meringkuk memeluk lutut. Basah. Licin. Lembab. Sementara kamu di sana mungkin tertawa bersama orang-orang baru yang kamu temui, aku berjuang untuk tetap mempertahankan kewarasan. Tetap hidup. Menunggumu kembali dalam kemustahilan.

Belakangan aku penasaran ingin bertanya, ketika kamu memintaku agar kita kembali pada pola hubungan sebelum kejadian itu, apakah saat itu kamu sedang menyangkal perasaan?

Aku tahu saat ini yang kamu pedulikan adalah meraih impianmu. Aku mengerti itu karena bukan kamu saja yang juga punya mimpi. Tapi jika memang perasaan itu nyata, tidakkah kamu terlalu kejam untuk menyingkirkanku begitu saja demi mimpimu itu? Apakah aku terlalu pengganggu bagimu? Apakah aku belenggu yang akan menghambat impianmu? Apakah aku begitu tak berharga untuk kamu genggam di sisimu? Apakah kamu memang tak pernah memiliki perasaan kepadaku?

Ah, sudah kubilang sebelumnya kisah ini memilukan.

Jika kamu memintaku untuk menyerah pada mimpi-mimpiku, akan kulakukan jika itu adalah harga yang harus kubayar demi bersamamu. Bahkan sekarangpun aku mulai menyerah dan gamang dengan apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa menunggu suatu hari Tuhan berbaik hati membuatmu kembali padaku.

Itu mustahil. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Selain percaya dalam setiap kemustahilan selalu ada keajaiban. Kisah bahagia itu memang telah berubah memilukan. Tapi bukankah pada akhirnya semua akan baik-baik saja? Meskipun itu berarti melihatmu tertawa dengan jemari lain yang menelusup di sela jemarimu.

Dan aku harus puas dengan mimpi buruk yang harus kuhadapi. Entah sampai kapan.

Aku merindukanmu hari ini.

Advertisements

One thought on “Kisah Bahagia yang Berubah Memilukan

  1. Pingback: kisah haru | idrisgemblong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s