Kurang 100 Hari Tersisa

Tak sampai 100 hari tersisa saat jarak fisik kita terpaut 3 jam perjalanan. Meski tidak hatimu yang membentang jarak jutaan tahun cahaya. Meski aku tinggal berjalan kaki menuju loket penjualan tiket untuk memesan kereta subuh demi menemuimu pagi hari, sekedar mengajak sarapan di warung tenda tepi jalan, aku tak memiliki keberanian. Aku tahu kamu tak suka jika aku mendatangimu. Lalu apa?
Sedangkan aku di sini tak berani beranjak sedikitpun. Masih ada janji yang kutunggu kamu tepati. Bahkan aku menepikan berbagai mimpi yang sejak lama ingin segera kugenggam. Bilang aku bodoh bertahan menyiksa diri, berpegang pada ketidakpastian menyakitkan.
Tapi jika memang seperti itu harga yang kubayar demi sebuah kesempatan darimu, akan kutunaikan. Bahkan jika aku harus melupakan seluruh mimpi yang kutepikan selamanya.
Kemudian apa yang akan terjadi saat waktu kurang 100 hari ini berlalu? Aku tak berani mengira-ngira. Yang kutahu pasti saat itu jarak fisik dan hati kita akan genap menjadi jutaan tahun cahaya. Aku tak akan tahu lagi bagaimana memangkas jarak itu. Aku tak kan sanggup mengikuti langkahmu menuju mimpi di balik awan-awan. Aku tak akan tahu pasti di mana kamu berpijak setelah ini.
Lalu apa? Menunggumu kembali adalah kemustahilan yang nyata.
Mungkin….
Mungkin aku akan menghabiskan sisa usia mencarimu. Memilah jutaan manusia di seluruh dunia.

*aku merasa di tepi jurang, tinggal menunggu seseorang mendorong dengan ujung jemari untuk melebur ke dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s