[Abaikan] Perempuan

Suatu hari saya pernah berpikir, mengapa saya tidak terlahir sebagai laki-laki? Saat ini perempuan (mungkin) lebih diakui kedudukannya, lebih mudah untuk mendapatkan hak-haknya, tidak seperti dahulu. Tapi seringkali sebagai perempuan saya masih terjajah oleh pikiran orang kebanyakan di sekeliling saya.

Dan perasaan terjajah itu semakin kuat saat saya lulus kuliah. Pertanyaan yang sering muncul saat masih kuliah adalah : KAPAN LULUS?. Setelah lulus: KERJA DI MANA? KAPAN NIKAH? Seperti siklus manusia hanya itu melulu (bukan berarti saya tidak memikirkan itu ya, saya sangat menyadari bahwa menikah adalah penting. Menikah menyempurnakan separuh agama :D)

Yang membuat saya jengkel terkadang adalah apa yang mengakar di masyarakat: PEREMPUAN SEOLAH DIBERI LABEL KADALUARSA, DI MANA PADA USIA TERTENTU HARUS SUDAH MENIKAH. SEPERTI ADA DEADLINE. Mungkin di kota-kota besar hal itu sudah tidak berlaku, tapi percayalah masih sangat berlaku di benak para orang tua.

Bahkan pernah suatu kali saat saya mengeluarkan statment ingin melanjutkan S2, ibu saya malah bilang: menikahlah dulu. Mungkin perkataan ibu saya ada benarnya. Tapi… ego saya sedikit terusik. Seakan bahwa perempuan masih tidak boleh “mengungguli” lelaki, dalam artian masih banyak lelaki yang minder saat perempuan itu telah mendapat deretan gelar. Kenapa perempuan yang jadi korban? Bukankah lelaki memiliki waktu yang lebih tidak terbatas untuk menjadi hebat? Bukankah perempuan yang baik akan selalu menempatkan lelakinya sebagai imam yang dihormati meski secara status sosial di perempuan lebih tinggi? (Sorry kalau tulisan ini terlalu emosional, tapi memang seperti itu yang saya rasakan. Dan sebenarnya ada beberapa pikiran yang bahkan saya masih kesulitan untuk mengeluarkannya dalam kata-kata.)

Bukan saya hendak melajang seterusnya, I wanna to be wife, a mother… tapi saya juga punya mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Dan sebuah perjuangan berat bagi saya diantara tuntutan orang tua dan keinginan yang menggebu. Tapi tidak boleh mengeluh…

MUngkin akan lebih mudah jika menjadi laki-laki… Belum tentu. Dan bukankah menjadi lelaki hebat terdengar biasa di mana ia memiliki usia tak terbatas untuk mengejar mimpinya? Tapi coba bayangkan… Menjadi perempuan hebat diantara keterbatasan bukankah lebih istimewa? Dan saya rasa banyak perempuan hebat itu.

Jadi betapapun sulitnya perjuangan, saya bangga menjadi seorang perempuan. Dan akan terus berjuang menjadi perempuan hebat yang menggenggam seluruh mimpi di sela jemarinya.

*Perempuan yang terus bermimpi dan tak ingin kalah dari lelaki 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s