Selaput

Selaput yang menyelubungi tubuhku luruh dua hari lalu
Gara-gara sentuhanmu yang melenakan
Aku tak menyalahkanmu
Aku benci diriku yang merapuh
Bagaimana kulewati hari tanpa selaputku?
Mungkin menuju ketidakwarasan bersama sentuhanmu yang menjelma ilusi
Menetap di sela jemari, bahu, dahi, pipi, dan puncak kepala

Sepele saja (mungkin) katamu
Tapi tidak bagiku
Butuh bertahun membangun selaput yang memisahkanku dengan dunia
Selaput yang membuatku aman dalam kesendirian

Lalu apa?
Aku tak layak memintamu untuk tinggal
Aku tak layak.
Tetap saja kubenahi sendirian
Setiap kekosongan yang tercerabut, selamanya tak kan terutuhkan
Kecuali kamu kembali
Kurasa….
Mustahil.

*Apa kabarmu? Aku hampir gila merindukanmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s