[Resensi] Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan

Baru keingetan dengan sebuah buku yang sebenarnya udah agak lama saya baca, tapi sampai sekarang masih memberikan kesan tersendiri. Oke, saya mau bahas itu sekarang, sebelum lupa lagi.

SINOPSIS

Judul: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Ketiga, Februari 2012
Tebal: 490 hlm
Bintang: 3/5

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.

RESENSI

Awalnya tidak pernah berniat membeli buku ini, saya juga tidak kenal penulisnya (Maaf Kang Eka, hehe). Saat pertama lihat sampul dan judulnya cukup penasaran juga, jadilah saya lihat profil pengarangnya, eh dari Tasikmalaya. Saya langsung memutuskan membeli secara saya juga semasa SMA tinggal di Tasik (hahaha…alasan yang aneh dan sangat subjektif karena berkaitan dengan kampung halaman). Apapun alasannya, setelah membaca buku ini, saya tidak menyesal membelinya.  Dan setelah itu ingin mengobrak-abrik isi pikiran penulisnya.

Novel ini berlatar sejarah, mengangkat sisi kehidupan lain di tengah penjajahan belanda, pendudukan jepang, agresi militer, masa komunis tahun 1965, dan masa setelahnya. Saya merasakan sisi feminitas yang diangkat penulisnya (Ini juga salah satu yang membuat saya salut, penulis pria yang tokoh novelnya seorang wanita) yang ingin memperlihatkan bahwa perempuan selalu menjadi korban dalam setiap zaman, bahkan dari mulai zaman perang. Novel ini juga sebagai suatu kritik bahwa di zaman modern ini, hak-hak perempuan seringkali terabaikan.

Novel ini bercerita tentang seorang gadis Indo-Belanda bernama Dewi Ayu, seorang anak yang cerdas dan berparas sangat cantik seperti kebanyakan anak berdarah campuran. Kehidupan Dewi Ayu berlatar di sebuah tempat bernama Halimunda, di mana saat Halimunda dikuasai tentara Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya dan itu terus berlanjut bahkan hingga akhir hayatnya.

Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang tidak diketahui siapa bapaknya, seluruh  putrinya mewarisi kecantikan ibunya. Kecantikan Dewi Ayu dan anak-anaknya justru membawa berbagai tragedi dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, saat kehamilan keempat, Dewi Ayu berharap anak bungsunya terlahir buruk rupa agar tidak mengalami tragedi seperti yang dialaminya dan kakak-kakaknya. Tuhan rupanya mengabulkan doa tersebut, anak bungsunya yang terlahir buruk rupa diberi nama Cantik. Walaupun terlahir buruk rupa, Cantik tetap tidak bisa terbebas dari tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya. Karena berbagai tragedi yang mereka alami, maka bagi mereka kecantikan adalah luka dalam kehidupan mereka.

Cerita dalam novel ini juga dibumbui mistis yaitu kebangkitan Dewi Ayu setelah 25 tahun dikubur yang terkesan sangat ajaib. Juga beberapa kisah tokoh lain seperti Sang Shodanko atau Kamerad Kliwon yang memberi warna lain di keseluruhan novel ini. Penulis mencoba menyajikan novelnya dalam bentuk lain. Alur maju-mundur yang disajikan terasa sangat kuat dan menjadi kelebihan tersendiri dari novel ini. Pembaca diajak berjalan ke masa lalu dan  berimajinasi dalam alur yang, hmm…sangat cantik menurut saya. Pada akhir cerita, penulis berhasil membuat saya setuju bahwa Cantik itu Luka.

Novel ini seakan menjadi kritik pada patokan cantik  di Indonesia yaitu tinggi, putih, langsing  seperti artis-artis kebanyakan. Apalagi dengan gempuran budaya Korea yang sangat gencar saat ini dimana banyak perempuan Indonesia semakin tergila-gila pada kecantikan. Meski hampir semua artis Korea melakukan operasi plastik untuk kelihatan rupawan. Dampak lain dari persepsi cantik tersebut adalah banyaknya kosmetik yang menjanjikan kulit putih mulus sekejap. Tanpa disadari kosmetik tersebut kebanyakan mengandung bahan berbahaya yang dapat membahayakan dalam penggunaan jangka panjang. Produk pelangsing, produk peninggi badan, produk pemutih,  semakin meracuni perempuan yang tergila-gila dengan paras rupawan. Padahal di satu sisi kecantikan dapat menghadirkan luka seperti yang dialami tokoh dalam novel ini.

Mengutip lirik lagu Bruno Mars ft. Esperanza Spalding:

Will you still call me baby when I’m old and crazy?
When I’m old and crazy, will you still call me baby?
Will you act the same? Will you laugh the same?
Will you think I’m pretty when my hair’s grey?
Will you still call me baby when I’m old and crazy?
Will you still hold my hand when my clothes are out of style?
My teeth all ran away and I don’t have the same smile

***

Kecantikan akan tergusur oleh waktuAh, tapi secara keseluruhan, novel ini membuat saya tak bisa melepasnya sampai akhir. Novel ini salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.

Advertisements

24 thoughts on “[Resensi] Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan

  1. Teh saya mau nanya, saya lagi nulis novel juga cuman stuck di pemilihan gaya bahasa karena basically saya nulis plot, data karakter, pokonya semuanya pake bahasa inggris, nulis ceritanya pun saya lebih nyaman pake bahasa inggris, ada solusi yang bisa dibagi ngga teh?

    • Mungkin perlu diliat lagi tujuan nulis buat apa? Mau diterbitkan pasarnya buat siapa? Kalau itu udah jelas kayaknya nggak masalah pake bahasa apapun.

      Hebat dong kalau nyaman nulis pake bahasa inggris.

      Jadi malu ah, saya aja belum punya karya masa ngasih solusi. Masih belajar juga.

    • Mungkin perlu diliat lagi tujuan nulis buat apa? Mau diterbitkan pasarnya buat siapa? Kalau itu udah jelas kayaknya nggak masalah pake bahasa apapun.

      Hebat dong kalau nyaman nulis pake bahasa inggris.

      Jadi malu ah, saya aja belum punya karya masa ngasih solusi. Masih belajar juga

  2. Haii teh, masih soal yang kemaren nih, saya amau nanya, kalau konten ‘sara’ kan tidak diperbolehkan, kalau ciuman termasuk sara ngga?

    • SARA itu kan menyangkut suku, ras, agama. Masalah masalah sensitif. Kalau ciuman bisa masuk konten pornografi kalau terlalu vulgar. Ya balik lagi segmen pembacanya siapa? Masa buku anak-anak ada scene ciuman kan nggak pantes. Ciuman juga buat apa? Kalau nggak mendukung jalan cerita kan percuma.

Leave a Reply to ayanapunya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s