Semua Telah Berubah

Aku berdiri di tepi jalan, di bawah pohon rindang. Hari ini cerah, sinar matahari hangat menerpa punggungku. Sesekali kumainkan tali ransel merah yang menggantung di pundak. Gugup. Ini hari pertamaku sekolah. Aku berjanji dalam hati akan belajar sebaik mungkin. Juara kelas harus kuraih.

Ah itu dia. Bus sekolah kuning terang yang kutunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Si kuning berhenti di hadapanku. Pelan aku mulai naik. Mataku berkeliling mencari tempat duduk kosong. Ya, sisa satu. Ada seorang anak laki-laki berambut keriting duduk di sana dengan koran di tangan kanan dan botol minum di tangan kiri. Aku duduk di sampingnya. Melirik sesekali. Penasaran apa yang ia baca. Tiba-tiba saja aku merasa ingin mengenalnya lebih dekat, tapi aku malu. Mencuri-curi pandang sesekali. Menunduk takut ketahuan. Matanya coklat, indah, penuh binar antusias. Sesekali anak laki-laki itu tersenyum bersama bacaannya. Bus sekolah kuning terang terus melaju perlahan. Aku dan anak laki-laki itu hanya saling diam.

***

Surprise! Ternyata anak laki-laki keriting dengan koran dan botol minum di tangannya itu sekelas denganku. Aku bersorak dalam hati. Kelas pertama kami menghias kue. Guru perempuan berwajah lembut membebaskan kami berkreasi. Aku, tentu saja menghias kueku dengan krim dan strawberry. Kususun satu-satu serapi mungkin. Aku harus jadi yang terbaik. Sesekali kulirik anak laki-laki itu, yang duduk agak jauh namun berhadapan denganku. Ups! Aku menahan tawa. Ia menghias kuenya bagai gunung berapi yang memuntahkan lahar. Berantakan. Aku semakin ingin mengenalnya lebih dekat. Entah kenapa, ia memiliki sesuatu yang membuatku tertarik. Entah apa.

Dan hari ini berlalu begitu saja. Tak sekalipun aku saling sapa dengannya. Aku pulang ke rumah. Mulai berdiri sendirian di depan cermin. Hello! Namamu siapa?  Kemudian aku begitu fasih bercerita seolah ia benar-benar ada di hadapanku. Semuanya berubah. Mungkin nanti kita saling bertukar bekal makan siang.

***

Setiap hari aku merasakan sesuatu bergejolak di perutku. Aku harap-harap cemas kapan semuanya akan berubah. Kapan kita saling menyapa. Dan hari ini kelas drama. Tuhan mendengar doaku. Ia menjadi lawan aktingku. Aku bahagia. Aku sangat menyukai bermain peran. Sepenuh hati aku perankan Juliet. Ia sebagai Romeo, hmm…not bad. Akhirnya kita mulai saling tersenyum, meski belum saling berucap Hello!

Saat  makan siang, aku duduk di salah satu sudut taman. Anak-anak lain sibuk berkejaran di hadapanku. Aku sendirian, membuka kotak makan siangku. Tiba-tiba anak laki-laki keriting itu duduk di sampingku, ia membuka kotak bekalnya. Kami saling bertatapan. Ia tersenyum, “Hello! Mau bertukar?” Ia menunjuk setangkup roti di kotak bekal. Kami mulai berbagi makan siang. Mengunyah roti sambil sesekali saling tersenyum. Akhirnya aku bisa menikmati lebih dekat mata indahnya. Teduh. Semakin aku menatap matanya, aku merasa pulang ke rumah. Damai. Semuanya berubah. Aku yakin akan ada esok, esoknya lagi, dan seterusnya kebersamaanku dengannya.

**

Anak laki-laki itu, yang bernama Zeus -kini aku tahu namanya- ia begitu sederhana seperti namanya namun penuh pesona seperti namanya Zeus, agung, berwibawa layaknya dewa. Ia selalu lebih dewasa dari usianya. Ia mau berteman denganku yang kaku, anak perempuan taat aturan yang ambisius menjadi juara kelas dan selalu ingin tampil sempurna. Hari ini kelas musik, saat anak-anak lain ribut menabuh, meniup segala jenis alat musik hingga membuat pusing guru kelas musik, ia mengajakku ke sudut. Dan ia mulai bernyanyi sambil memainkan gitar. Suaranya indah. Ia terus menyanyi sambil menatap mataku. Aku balik menatapnya. Menikmati setiap alunan nada suara malaikatnya.

Saat pelajaran olahraga, anak laki-laki lain sibuk bermain sepak bola, anak perempuan lari berkejaran. Ia berdiri di sampingku. Mengikuti setiap gerakan yoga yang kulakukan. Yoga adalah kesukaanku, ibuku yang mengajarkan. Katanya agar aku bisa mengontrol pikiran dan tidak terlalu ambisius sampai mengkerut dahiku. Hahaha. Aku tertawa saja saat itu. Dan ternyata ibuku benar. Yoga menenangkan, mengendurkan saraf-saraf otakku yang sering tegang. Apalagi kini anak laki-laki itu menemaniku melakukan yoga. Kami, sepasang anak berusia tujuh tahun, melakukan yoga berdua. Sungguh tidak lazim. Aku merasa kami sepasang alien diantara anak-anak normal lainnya. Tapi aku senang menjadi berbeda. Menjadi alien, bersamanya. Kami larut dalam setiap gerakan yoga hingga akhir. Kemudian berbaring kelelahan di atas rumput sambil tertawa bersama.

***

Hari ini kelas Sejarah. Ah, membosankan sekali. Guru sejarah menyalakan proyektor dan memutar film tentang kejadian masa lalu yang tak kumengerti. Tiba-tiba saja anak laki-laki itu, Zeus, yang kini selalu duduk di sampingku, menarik tanganku. Mengendap-ngendap keluar kelas. Bolos. Ini pertama seumur hidup, aku, anak perempuan kaku yang taat aturan, membolos.

Ia mengajakku bersenang-senang. Mengintip tempat penitipan hewan peliharaan yang dibawa teman-teman ke sekolah. Mentertawakannya yang coba-coba berbicara dengan ular. Bosan melihat hewan. Ia menarikku ke gudang penyimpanan alat-alat kemping. Di sana ada tenda mini. Kami duduk di dalamnya, memainkan senter. Ia bermain drama dengan cahaya-cahaya senter yang memantul di langit-langit tenda.

Membolos kelas Sejarah menjadi rutinitas mengasyikkan. Kami akan terus melakukannya, selama tidak ketahuan. Sesekali ia juga menarikku ke perpustakaan. Ruang penuh buku itu selalu sepi. Kami bersandar di rak paling sudut. Ia dengan buku sketsanya mulai menggambar diriku yang sedang menjahitkan bajunya yang robek terkena paku entah di mana.

Suatu hari kesekian saat membolos kelas Sejarah, kami berkeliling mencari tempat lain yang lebih asyik untuk bersenang-senang. Kami sampai di sebuah ruang kelas kosong. Dengan pandangan takjub, melangkah pelan memasukinya. Ada meja di sudut berdampingan dengan cermin besar. Di meja itu ada seperangkat spidol aneka warna. Ia mengambil satu, berdiri di depan cermin, mulai menggambar sembarang bentuk di wajahnya. Ia memberiku satu, menarikku ke depan cermin, mengajakku bersenang-senang. Ragu kucoret sebentuk kecil di wajahku yang selalu bersih. Kemudian entah kenapa aku merasa ini mengasyikan. Aku mulai menggambar sembarang bentuk sepertinya hingga penuh wajahku, Dan kami tertawa bersama. Geli saling menatap wajah yang sama-sama berantakan.

Aku tak peduli, masih dengan wajah berantakan, aku mulai menari. Larut dalam setiap gerakan balet yang kupelajari di tempat kursus. Aku tak menyadari bahwa ia mulai menggambarku menari. Suatu hari saat akhirnya aku bisa melihat gambarnya, aku ingin menangis. Gambar itu indah, wajahku berantakan tapi aku cantik sekali, begitu hidup. Sepertinya ia menggambar sepenuh hati.

***

Kali lain setelah makan siang, kami menghampar tikar di bawah pohon rindang. Aku mulai berbaring, berbantal kakinya yang berselonjor. Tanganku sibuk berorigami menggunakan daun gugur yang kupungut selewatan. Ia mulai membuka bukunya. Membaca sebuah buku, sepertinya sastra. Aku tak mengerti apa yang ia ceritakan, meski sepertinya ia mengerti apa yang ia bacakan. Tapi aku tersenyum mendengarkan. Aku menyukai suaranya yang indah membacakan tiap baris kalimat dengan hati-hati, sepenuh jiwa.

Dan aku mulai kecanduan bersamanya. Kami tak terpisahkan. Aku tak ingin sekolah berakhir agar terus bersamanya. Tertawa. Bel pulang selalu membuatku mendesah panjang. Kecewa. Hari ini berakhir. Bersabar sampai esok untuk bersamanya lagi.

Suatu hari dalam detik terakhir sebelum bel pulang berbunyi nyaring, ia mengajakku ke aula. Di depan sana ada sebuah panggung tempat segala pertunjukan berlangsung. Dan kami saling berhadapan. Ia mengajariku berdansa. Meski tanpa lagu pengiring, aku menyukai setiap gerakan kompak bersamanya. Kiri. Kanan. Berputar. Aku tak ingin ini berakhir.

Bel pulang berbunyi nyaring. Aku mendesah panjang. Kecewa.

***

Ibuku menunggu di depan gerbang sekolah. Aku berlari menghampiri. Memeluknya panjang.

“Bagaimana harimu, Sayang?”

“Super!” Jawabku antusias.

Sementara di sebrang tak jauh dari aku dan ibuku, Zeus memeluk ayahnya yang berambut keriting dan bermata coklat juga. Persis.

“Hello, Jagoan! Bagaimana harimu?”

“Super!” Zeus dan ayahnya heboh  melakukan toast. 

Kemudian ayah Zeus berbalik, begitu pula ibuku. Mereka saling menatap. Aku ikut-ikutan saling menatap dengan Zeus, mengucap sampai jumpa tanpa suara. Ibuku dan ayah Zeus saling melempar senyum.

“Ayo, Nak!” ibuku dan ayah Zeus berbarengan menggandeng tangan mungil kami. Dan kami pulang ke rumah. Berlawanan arah.

***

Semuanya telah berubah. Ia, lelaki kecil yang dahulu selalu bermain bersamaku kemudian saling jatuh cinta setelah dewasa, kini telah memiliki seorang tiruan mungil sosoknya. Begitu pula aku dengan seorang anak perempuan cantik yang sangat kubanggakan. Bertahun berlalu sejak perpisahan yang menyakitkan. Tapi kini, aku lega. Tak ada lagi sakit di dada tempat jantungku berada. Aku bisa tersenyum saat berhadapan dengannya. Semua karena malaikat kecilku, putriku tercinta.

Ibu itu mulai menyelimuti anak perempuannya yang lelap terpejam dengan senyuman indah di bibir mungilnya. Ia mulai mencium kedua pipi, dahi, dan bibir putri kecilnya. Menyalurkan kasih sayang untuk menjaga putrinya dari mimpi buruk. Dimatikannya lampu. Pintu ditutup.

***

Ah, jagoanku sudah tidur. Ayah Zeus mulai menyelimuti putranya yang begitu mirip dengan dirinya.

Nak, ayah bertemu dengannya. Seseorang yang sampai saat ini tersimpan dalam salah satu ruang sudut hati ayah. Ayah menyesal melepaskannya karena keegoisan ayah. Tapi, Nak, hari ini saat ayah menatapnya tersenyum bersama putri kecilnya yang cantik, ayah lega, Nak. Ayah lega ia bahagia. Dan, Nak, meski ayah tetap menyimpannya di hati ayah, ayah sangat bersyukur memiliki ibumu. Karena ibumu lah ayah memilikimu, jagoan ayah yang seharga semesta. Nak, ayah beritahu rahasia kecil, ini antara kita saja, rahasia para lelaki. Ayah memilih ibumu karena ia mirip dengannya. Meski sedikit. Ia tak tergantikan, Nak. Tapi kamu yang paling ayah sayangi.

Lelaki dewasa berambut keriting bermata coklat itu mematikan lampu kamar anak laki-lakinya. Menatap anak laki-lakinya yang lelap dalam senyum. Mimpi indah, Nak! Suatu hari jangan menjadi seperti ayah. Perjuangkan perempuan tercintamu. Lelaki itu menutup pintu perlahan.

***

*For my best friend: Wish you all happiness in life… I love you, my girl. You’re a miracle in my life. We shared every laughs and tears. Wish our friendship long lasting…

*Terinspirasi juga dari VC Taylor Swift ft. Ed Sheeran- Everything Has Changed.

Advertisements

One thought on “Semua Telah Berubah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s