Sampai Kapan?

***

Tetiba aku merasa bosan terjebak dalam apa yang aku sendiri kebingungan menamainya. Sampai kapan aku dan kamu akan terus berbincang setiap hari tanpa tahu apa yang akan dituju? Sampai kapan? Hubungan macam apa ini? Tetiba aku pun ragu kalau kita berteman. Ataukah seperti yang sudah-sudah, hanya aku yang merasakan sesuatu berbeda? Dan kamu tidak?

“Saling mengenal, menjalin pertemanan, dan menunggu waktu yang tepat. Siapa tahu memang kita bisa bersama.” itulah katamu sekian waktu lalu.

Apakah dari awal memang seperti itu? Kurasa hubungan kita terlalu absurd didefinisikan dan tak ada batasan jelas tentang apa yang kita jalani. Waktu yang tepat? Persetan dengan konsep yang tak kumengerti itu. Perfect timing. Memangnya ada yang seperti itu? Kamu, aku, kita lah yang menentukan sejak awal kapan, apa, bagaimana kita bersama-sama mencapai suatu target.

“Cinta itu bukan pekerjaan yang bisa kamu atur deadline-nya. Cinta itu mengalir. Tetiba saja kamu akan merasa inilah saatnya untuk berkomitmen.” itu juga katamu. Lalu apa? Sampai kapan? Jadi kamu lebih memilih dalam hubungan entah apa yang tak bernama.

“Cinta itu butuh chemistry.” teorimu semakin membuatku bingung. Memangnya chemistry itu tetiba muncul setelah sekian waktu? Kenapa kita tidak membangunnya sejak awal? Bagaimana lah membangun chemistry dalam hubungan entah apa yang tak bernama?

Aku mulai ketakutan kalau kamu menganggapku kaku, terlalu banyak menuntut, dan gila komitmen. Sungguh bukan seperti itu. Aku lelah dengan semua ketidakjelasan. Aku khawatir kita akan tiba pada titik jenuh, saling menyakiti satu sama lain, dan akhirnya seperti yang sudah-sudah, kamu juga meninggalkanku dengan banyak luka yang harus kubenahi sendirian. Jika memang tidak ada akhir buat kita, berhenti saja sampai di sini. Sebelum aku semakin jatuh dalam rasa yang mendalam.

Apakah aku yang terlalu naif mulai membangun harap? Tetiba aku merasa kamu begitu perhatian. Menjagaku. Menemani hariku. Mengingatkanku. Menuruti mauku. Atau aku salah mengartikan semuanya? Jika memang kamu memiliki rasa yang sama, kenapa kita tak saling jujur saja?

Aku hanya lah seorang perempuan yang terikat pandangan sekitar yang terlalu menyudutkan. 

“Tak apa perempuan memulai lebih dahulu.” ujarmu pada suatu kali perbincangan kita. Kamu yakin bisa menerima seutuhnya? Yakin? Aku tak terlalu percaya. Seperti yang sudah-sudah, kamu juga akan menjauh.

“Kenapa urusan ini menjadi rumit?”

“Karena kamu yang memperumit.” jawabmu. Coba kita bertukar posisi. Kamu akan tahu bagaimana rasanya jika kamu sekali saja menjadi aku. Dan kamu akan menyesal dengan perkara mengeluarkan pernyataan aku memperumit urusan ini.

Aku mulai kehilangan kewarasan lagi.

“Kita bahkan belum bertemu.” lagi-lagi kamu membuatku tersudut. Ah. Bahkan sekalipun kamu tak pernah berniat mendengar suaraku, kita hanya berbicara dalam barisan kata. Sampai kapan? Aku tetiba merasa malu seolah menjelma perempuasn maha agresif. Sungguh aku tak akan merengek-rengek. Aku hanya…..hanya apa? Lelah. Ya. Lelah. Ketidakpastian yang menguras energi begitu rupa.

Ya. Kuakui kali ini kamu benar. Tapi sampai kapan? Kita akan menunggu Tuhan tetiba mempertemukan kita?

Hei! Lupakah kamu? Tuhan tak akan memberi dengan percuma, Ia hanya murah hati pada para pejuang yang berusaha. Lalu kita hanya akan diam tanpa merencanakan pertemuan? Aku tak mau memulainya dan dianggap tak punya harga diri. Mungkin kamu akan berkata untuk bersabar dan tak bersegera. Tapi, tahukah kamu? Ada hal-hal yang mesti disegerakan. Sebelum terlambat. Ask your heart…

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s