Perempuan dengan Selembar Gambar Lama

Perempuan itu berkeliaran seorang diri dengan selembar gambar lama, gambar wajahnya yang bercahaya dan tertawa lepas bersama binar mata bahagia. Perempuan itu mencari bahagia yang bertahun pudar dalam ingatan, bertanya pada setiap manusia-manusia yang ia temui di perjalanan.

“Di mana aku bisa mendapatkan wajah seperti ini?” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk gambar wajahnya yang bercahaya dan tertawa lepas bersama binar mata bahagia. Bertahun yang ia lewati, jutaan manusia tetap menggeleng membuatnya kesal. Namun, ia tak ingin berhenti menemukan wajahnya yang bercahaya dan tertawa lepas bersama binar mata bahagia.

Kemudian sampailah ia pada seorang dokter yang biasa membuat wajah palsu bagi manusia-manusia yang mengingkari ciptaan Tuhannya. Dokter itu terhebat di jagat raya, pujaan manusia-manusia di seluruh penjuru semesta.

“Apa yang kamu inginkan? Mata besar dengan lipatan sempurna? Dagu lancip dengan pipi tirus? Bibir seksi?” Dokter itu memberikan penawaran layaknya seorang sales menawarkan dagangan, bukan seperti apa yang kalian pikirkan tentang seorang dokter penyelamat nyawa-nyawa sekarat.

Perempuan itu terdiam. Perlahan menunjukkan gambar lama wajahnya yang bercahaya dan tertawa lepas bersama binar mata bahagia. “Bisakah Anda membuatkanku wajah seperti ini?”

Dokter itu mengamati gambar lama di tangan si perempuan. Kemudian menggeleng samar. “Bukankah itu kamu? Wajahmu sekarang tak berubah, masih sama seperti dalam gambar lama itu. Kamu tak perlu bantuanku. Tapi kalau kamu mau aku bisa membuatkan wajah sempurna untukmu, tercantik seluruh semesta.”

Perempuan itu menggeleng, melangkah gontai meninggalkan dokter yang ternyata bukan terhebat di jagat raya. Dokter itu tak mengerti. Wajahnya saat ini berkebalikan dengan gambar lama wajahnya. Tak ada cahaya. Tak ada binar mata bahagia. Lupa caranya tertawa lepas.

Ketika ia hampir saja berkata pada seluruh dunia bahwa ia menyerah, datanglah seorang lelaki tanpa ia duga. Lelaki itu bukan seorang sempurna seperti yang ia mimpikan. Namun, entah mengapa dalam tujuh hari saja kebersamaan dengan si lelaki, perempuan itu diam-diam mulai tersihir pesonanya.

Lelaki itu menjadi awal pada hari yang ia lewati, kemudian menjelma lullaby pada malam ia akhiri hari. Lelaki itu tahu diri selalu menepati janji, meski hal kecil sepele yang mereka bicarakan selewatan. Lelaki itu mengajaknya melancong ke dunia kanak-kanak yang lama tertinggal di masa lalu. Lelaki itu menelusup menuju hatinya melalui sulur-sulur tak terlihat yang perlahan mengepakkan sayap kupu-kupu yang tertidur di perutnya.

Lelaki itu mulai mengajarinya tawa, memaafkan masa lalu, dan mulai menjahit luka-luka lama menyakitkan yang sekian lama berdarah-darah. Lelaki itu….apakah ia mencintainya?

Perlahan wanita itu mulai meninggalkan gambar lama wajahnya yang bercahaya dan tertawa lepas bersama binar mata bahagia. Ia tak lagi menginginkan wajah lamanya. Kini, ia bisa tertawa, binar matanya bahagia bersama lelaki yang selalu memberikan keajaiban setiap hari. Tawa baru, bahagia baru, berbeda dari masa lalu. Namun lebih indah. Semuanya hanya tentang memaafkan masa lalu dan menerima awal baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s