Monolog tentang Seorang yang Hadir Tiba-Tiba

Hai, apa kabarmu hari ini? Kuharap jawabmu baik, sama sepertiku. Karena saat ini aku bahagia, sangat bahagia. Banyak hal yang membuatku tertawa akhir-akhir ini.  Meski k-i-t-a masih menjadi kata sakral yang sangat jauh di sudut langit sana. Hadirmu saja sudah sedikit mengubah hari kelabuku menjadi merah muda.

Jangan tanya bagaimana rasanya menungggu pertemuan-pertemuan. Andai kamu tahu betapa hatiku mati-matian ingin menghadirkanmu di sampingku saat ini, menghabiskan meski satu hari saja. Hari  merah muda. Entahlah. Sulit sepertinya, maka hari ini aku hanya ingin bermonolog, menghadirkan sosok imajinermu berbicara di hadapku, karena aku tak tahu bagaimana caranya berterima kasih akan hadirmu selain membagi keindahan hari merah muda denganmu, walau  sekedar dalam monologku.

Ya, bagimu mungkin terasa ganjil. Kupikir saat kamu hadir aku akan tetap sama, tapi sungguh kamu membuatku menemukan kembali tawa yang sekian lama terlupakan. Kamu sanggup menghapus air mata yang kerap hadir , menukarnya dengan tawa, dengan segala tingkah polah ajaibmu. Mendadak ada perasaan bahagia di setiap kemunculanmu dan kupikir kamulah yang harus tahu pertama kali perasaan bahagia ini.

Entahlah, aku tak tahu apa yang menanti k-i-t-a di depan sana. Aku hanya ingin menikmati saja hadirmu menelusup ke hatiku yang paling dalam. Menyambut setiap perasaan bahagia berlipat dalam tiap-tiap interaksi k-i-t-a. Tapi selintasan, kamu mengusik alam pikirku, semaumu. Jika itu tentang kamu, aku khawatir kamu telah mengambil paksa lahan tersisa di hatiku yang penuh ketakutan masa lalu.

Pernah suatu kali kamu absen menghadirkan hari merah muda, sehingga aku merasakan kekosongan panjang. Mulai pikir-pikir tentang kamu. Coba-coba membentuk rindu. Gelisah. Sesak di dada. Dan semakin kupikirkan absennya kehadiranmu, justru semakin kuat perasaan-perasaan kehilangan. Aku takut ditinggalkan atau harus meninggalkan. Seperti yang sudah-sudah.

Sesungguhnya aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri. Penasaran, ingin tahu, apakah kamu merasakan hal yang sama? Meski selintasan. Namun aku tak punya nyali mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutku, mati-matian kupaksa agar ia tidak nekat lompat keluar dari mulutku. Kutahan-tahan, kukembalikan paksa ke sudut gelap. Menguncinya dalam ruang pekat. Aku ketakutan kamu akan menghilang karena terpojokkan oleh pertanyaan bodohku.

Pertanyaan itu biasa saja sepertinya. Mungkin hanya tidak pada waktu yang tepat untuk ditanyakan -dan aku masih kebingungan dengan konsep waktu yang tepat itu-. Satu pertanyaan akan bertumbuh satu pertanyaan lain yang lebih-lebih membuatku khawatir. Aku khawatir kamu ketakutan. Kemudian menjauh, dan aku akan ditinggalkan seperti yang sudah-sudah, bersama luka yang akan lebih sulit dibenahi. Padahal hari merah muda hanya mampu hadir bersamaan dengan hadirmu. Dan aku masih butuh berbagi bahagia lebih lama denganmu.

Tidak! Kumohon jangan paksa aku menanyakannya. Ini memang hanya sekedar monolog, tapi mungkin saja monolog ini selewatan terbaca olehmu, atau secara ajaib ia diterbangkan angin ke telingamu.

Cukup! Tolong jangan paksa aku. Kenapa kamu terus memaksa? Jika kamu pasang tampang seperti itu, akhirnya aku bisa luluh juga. Baiklah, kuharap tak terjadi apa-apa setelah pertanyaan itu keluar dalam monologku.

Sejujurnya, ada yang sedang bertumbuh di hatiku. Menancapkan bercabang-cabang akar untuk menjulang kokoh. Ia adalah rasa yang tak berani kuberi nama. Entah mengapa, aku pikir rasa ini tak cukup menempati lahan di hatiku, padahal ia butuh ruang bertumbuh lebih lapang. Maka, adakah ruang di hatimu untuk kutitipkan rasa? 

*******

Awalnya aku takut. Namun entah mengapa lega setelahnya. Aneh. Lebih aneh lagi, sekarang aku berharap keajaiban berbaik hati membawanya ke telingamu.

Ah…aku bahagia. Kebahagiaan bertahun lalu hadir kembali dalam rupa berbeda. Kuharap ada k-i-t-a menanti di depan sana.

Advertisements

2 thoughts on “Monolog tentang Seorang yang Hadir Tiba-Tiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s