Ibu

Ibu adalah seorang perempuan yang paling berjasa mengantarkanku sampai saat ini. Ibu lah yang membuatku bertumbuh dari bayi polos menjadi seorang perempuan yang masih polos sih sebenarnya 😛

Ibu yang sejak kecil mendorongku menjadi pemberani. Saat aku ketakutan sendirian tampil di atas panggung, ibu berdiri di belakangku membisikkan doa, membagi kekuatan hingga aku bertahan dan tak jadi pengecut melarikan diri dari amanah yang harus kulakukan.

Ibu yang pada masa kecilku begitu telaten menjahit sendiri dengan tangannya pakaian yang melindungi tubuh mungilku semata demi anak perempuannya bisa selalu tampil mempesona, berbeda, bersinar lebih terang dari anak perempuan lain. -baru kutahu kemudian ternyata ibuku pernah bercita-cita menjadi seorang fashion designer, sayang beliau tidak bisa meraih impiannya-

Ibu yang pandai memasak segala makanan lezat termasuk kue-kue cantik yang selalu kugemari. Ibu pula yang mengenalkanku pada tempat bernama dapur, membuatku bisa membedakan antara merica dan ketumbar, mengajarkan bahwa sebuah hidangan bukan hanya diciptakan dari campuran bahan-bahan tapi harus juga ditambahkan sentuhan bernama cinta…

Ibulah yang membuatku menjadi seorang pembelajar, selalu ingin anak perempuannya selangkah lebih maju dari anak lain seusianya. Mengajariku membaca sedari sebelum saatnya masuk TK. Mengajariku mengaji hingga khatam Al-Quran saat genap 5 usiaku. Mendaftarkanku lomba mata pelajaran saat aku kelas 4 SD, padahal normalnya lomba itu untuk kelas 5 SD, semata karena beliau percaya pada kemampuan anak perempuan kebanggaannya. Terus dan terus membuat anak perempuannya menjadi anak perempuan paling bersinar.

Ibu yang ada di sampingku saat aku terpuruk lelah. Ibu yang melindungiku dari tangan-tangan dunia yang coba-coba menjahili anak perempuan kesayangannya. Hingga sekarang pun, ibu adalah nama yang kurapalkan saat aku ketakutan, saat aku sedih, saat aku merindukan hadirnya, ibu yang kurapalkan setelah rapalanNya.

Ibu dalam tangisnya yang diam-diam mengajarkanku bahwa seorang perempuan tak boleh terlihat rapuh karena seorang perempuan adalah penjaga kekuatan. Seorang perempuan adalah penopang jiwa-jiwa kelelahan. Seorang perempuan adalah pencetak generasi-generasi pengubah dunia. Seorang perempuan adalah pendoa alam semesta. Seorang perempuan adalah pendusta yang selalu tersenyum demi menebarkan bahagia bagi jiwa-jiwa terkasihnya. Seorang perempuan…

Suatu hari, aku akan menjadi perempuan seperti ibu, meski mungkin tak kan pernah mampu aku mengunggulinya.

Maaf untukmu ibu yang tetap berbesar hati meski sering kutorehkan luka.

Untuk ibu yang bertambah usia 7-7-2013. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s