Teman???

Raisa menyesal membuka account Facebook-nya. Deretan account yang menunggu konfirmasi penerimaan menjadi teman tak pernah disukainya. Ia tak mengenal sebagian besar account tersebut.

Ah, tak ada salahnya. Aku penasaran. Ia mulai memperhatikan deretan nama di layar laptopnya. Nama di deretan teratas menarik perhatiannya. Spontas ia telah masuk ke halaman account di deretan teratas itu. Kakak kelas rupanya. Akhirnya ia memutuskan untuk meng-accept. Ia hampir saja menutup Facebook di internet browser, ketika tiba-tiba seseorang mengajaknya chatting. Account yang baru saja menjadi teman Facebook-nya.

“Raisa, nama yang bagus. Bisa nyanyi dong.” Haduuuh!

“Hmm…”

“Kenapa? Sakit gigi?”

“Nggak. Sakit hati” jawabnya asal.

“Hahahaha…”

“Udah ya aku off.

“Eh bentar! Senang kenalan denganmu. Aku sering liat kamu di kampus. Tapi nggak berani nyapa.”

“Hmm…”

“Kapan-kapan aku ajak kamu jalan mau nggak?”

“Hmm…”

“Eh..tapi jangan salah paham ya. Aku cuma mau temenan aja kok.” Heh? Emang dipikirnya aku kegeeran dia ngajak jalan. Sial!

“Udah ah. Bye!”

“Eh bentar!” Apaan sih? “Aku boleh minta nomor kamu? Nih nomorku 085000999000.” Erggh! Tanpa membalas, Raisa tak ragu untuk menutup internet browser-nya. Mematikan laptopnya kemudian. Namun entah kenapa perasaannya tak enak. Sepertinya urusan ini akan menjadi panjang.

***

“Raisa!” suara teriakan itu sanggup menghentikan Raisa yang hendak menuju parkiran motor. Refleks ia menoleh ke belakang. Seseorang melangkah mendekatinya.

Raisa memperhatikan lelaki itu. Siapa? Seperti seseorang yang dikenalnya atau pernah bertemu dengannya. Ia tak ingat di mana. Sebentar! Bukannya dia itu… Raisa yakin lelaki itu kakak kelasnya. Si account Facebook.

“Hai! Remember me?” Raisa mengangguk. “Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Tadi malam kenapa off?”

“Ngantuk.”

“Keberatan kalau aku ajak kamu makan?” Raisa menggigit bibir, bingung. Sebenarnya ia lapar, tapi…

“Kamu pasti lapar kan? Aku tahu tempat ayam goreng yang enak.” Ayam goreng? Mendengar ayam goreng enak membuat Raisa menahan air liur. Dia tahu kalau aku tak akan pernah menolak makanan. Ayam goreng. Mau!!!

***

Makan bareng yuk! Aku jemput kamu 15 menit lagi.

Sebaris pesan pendek di layar ponsel sanggup membuat Raisa kaget. Ia langsung menelpon pengirim pesan itu.

“Hai!’’

“Aku belum siap. Jangan ke sini dulu.”

“Siap-siap sekarang. Sebentar lagi aku sampai.” Telepon terputus. Raisa merengut. Kesal. Ia tak suka dipaksa bersiap-siap dengan tergesa. Kenapa tidak dari tadi dia SMS?

Lima belas menit berlalu, Raisa telah siap menunggu di teras. Namun seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang. Kamu di mana? Jadi datang? Raisa mengirim pesan kepada seseorang yang ditunggunya. Tak dibalas. Mungkin masih di jalan. Lima. Sepuluh. Lima belas. Dua puluh. Tiga puluh menit.

Aku tak jadi datang. Besok malam saja kita makan bareng.

Raisa berang. Apa-apaan ini? Ia tak membalas.

***

Kamu jadi datang? Pesan terkirim.

Sepertinya tidak. Baru sampai rumah. Aku capek sekali. Badanku sakit semua.

Ya sudah. Kamu istirahat. Tidur. Jangan sampai sakit.

Teman, ayo kita karaoke! Raisa mengirim pesan lain. Saatnya bersenang-senang malam ini. Sudah lama ia tak pernah lagi berkumpul dengan teman-temannya, segerombol cewek yang selalu mengisi hari-harinya dengan tawa. Waktunya banyak tersita untuk menemani ‘teman barunya’. Hampir setiap malam mereka keluar. Sekedar mencari makan. Kadang hanya berputar-putar keliling kota. Sesekali nongkrong di angkringan. Beberapa kali nonton di bioskop. Sekali mengantarnya belanja.

Sebenarnya aku ini siapa untuknya? Teman. Tapi jalan tiap hari. SMS tiap detik. Telepon tiap malam. Teman? Teman. Teman. Raisa sibuk bermonolog di dalam hati, sementara ia bersiap sebelum teman-temannya datang menjemput. Dan dering telepon membuyarkan semuanya.

“Raisa, aku di depan rumahmu.”

“Katanya nggak jadi datang?”

“Keluarlah sebentar. Aku punya sesuatu untukmu.”

Setengah berlari, Raisa keluar rumah. Lelaki itu telah menunggunya. Duduk di atas motor dengan helm di kepalanya.

“Ini.” Dia menyerahkan sebuah bungkusan putih. Dan berlalu begitu saja dengan motornya. Menyisakan debu yang menyesakkan. Raisa membuka bungkusan itu. Muffin. Hanya satu. Hanya untuk sebuah muffin ia datang jauh-jauh? Sebenarnya aku ini siapa untuknya? Teman. Hanya teman. Raisa menggigit pingiran muffin. Manis.  

***

Temani aku makan bubur kacang hijau. Sebaris pesan itu mampu membuat Raisa tenggelam dalam khayalan. Semangkuk bubur kacang hijau yang mengepulkan asap dengan kuah santan yang gurih dan samar pedas jahe. Enak…Nyam!

“Itu bubur kacang hijaunya enak lho!” Raisa menepuk pundak lelaki yang serius mengemudikan motornya.

“Nanti saja.”

Kapan? Aku sudah lapar. Dari tadi penjual kacang hijau lewat begitu saja. Sudah berapa banyak? Tak terhitung.

“Sudah malam. Kita pulang saja.” Dia tidak menjawab. Hanya laju motornya yang semakin kencang.

“Ini ke mana? Aku mau pulang. Ini bukan jalan ke rumahku.”

“Iya. Pulang.”

“Tapi ini bukan jalan ke rumahku.”

“Pulang. Pulang ke rumahku.”

“APA?” Dia tidak menjawab. Laju motornya yang semakin kencang. Berputar tak jelas di jalan yang tak kuketahui namanya.

“Antarkan aku pulang. Ke rumahku.”

***

“Temani aku beli kue ulang tahun.” Dan seperti biasa Raisa hanya menurut. Mengikuti permintaannya.

Sepertinya Raisa telah kecanduan. Kebersamaan dengannya setiap hari menjadi sesuatu yang selalu Raisa nantikan. Membuatnya merasa kehilangan saat terlewatkan. Merindukannya saat sendirian. Meski sampai hari ini, ia tak pernah mengerti hubungan macam apa yang sedang dijalaninya. Ketidakpastian. Melelahkan. Tapi selalu layak untuk dinantikan. Hanya untuk sebuah kejutan di akhir. Yang bahkan tak selalu menyenangkan.

“Kamu suka, Raisa?” Ia menunjuk sebuah Teddy Bear mungil dengan kantung berisi potongan cokelat berbentuk hati yang juga berukuran mungil.

“Lucunya. Eh, katanya mau beli kue ulang tahun.” Raisa mengingatkan tujuan awal mereka datang ke bakery tersebut.

“Nggak jadi. Beli ini saja. Aku mau beli dua.”

“Terserah. Ayo kita pulang.” Raisa tidak berselera untuk berdebat. Lapar. Capek.

“Mbak yang ini dua ya.” Ia menunjuk Teddy Bear mungil itu. Raisa tak habis pikir. Ngapain sih aku di sini? Nganterin orang yang katanya mau beli kue ulang tahun tapi malah beli coklat. Nih orang kapan sih konsisten dengan tujuan awal?

“Nih bawain!” Ia menyerahkan cokelat yang telah terbungkus rapi. Mending nih cokelat buat aku. Meski kesal, Raisa tetap membawakan bungkusan itu.

“Nih cokelatnya! Buat siapa sih? Banyak banget beli dua.” Raisa tak tahan untuk bertanya saat menyerahkan kembali bungkusan yang sedari tadi ia pegang. Ah, sampai rumah juga. Aku mau makan. Mandi. Tidur.

“Ambil saja!”

“Hah?”

“Iya. Cokelat itu buat kamu. Terima kasih sudah menjadi temanku. Cuma kamu yang tahan dengan kelakuanku.” Dan ia berlalu begitu saja meninggalkan Raisa terpaku dengan bungkusan di tangannya.

Raisa membuka bungkusan cokelatnya, mengambil satu. Cokelat pertama dari seorang lelaki yang diterimanya. Menggigitnya. Asin. Air matanya menderas tanpa terasa. Aku benci kata teman. Aku tidak ingin jadi temanmu. Tidak ingin. Aku lelah!

***

“Tinggalkan aku sendirian!”

“Kamu kenapa sih? Dari tadi tak bicara apa-apa. Sekarang ngusir-ngusir nggak jelas. Kamu kenapa? PMS?”

“Kamu pikir cewek kayak gini pas lagi PMS aja?”

“Terus kenapa? Ya sudah! Kita pulang saja.”

“Pulang saja sendiri!”

“Terus helm kamu?”

“Helm?”

“Aku nggak mauu ya bawain helm kamu. Ngerepotin.” Dari sekian hal yang ia khawatirkan, hanya sebuah helm. Kamu tak perlu banyak tanya. Aku hanya butuh waktu untuk…melepas lelah. Sejenak. Mengertilah!

“Buang saja!” Dan ia pergi begitu saja.

Aku lelah. Ketidakjelasan tak lagi layak untuk dinantikan, hanya demi sebuah kejutan yang akan muncul di akhir. Raisa tak pernah tahu bahwa pertemanan akan begitu… menyakitkan. Andai saja semua ini tak pernah berawal, maka aku tak akan pernah kesulitan untuk mengakhiri. Teman. Menyakitkan. Tapi aku menikmatinya. Aku kecanduan. Mungkin ini harga yang harus kubayar. Untuk sebuah kejutan di akhir penantian. Aku jatuh cinta. Sepertinya…

Advertisements

4 thoughts on “Teman???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s