Seseorang Itu….

Seseorang itu telah cukup lama terlupakan bersama waktu yang menua dan jarak yang mengaburkan pertemuan, namun sesungguhnya ia tetap ada. Seseorang itu, yang pernah kukira akan menjadi tulang rusuk tempat ku berasal, ternyata hanya dikirim Tuhan untuk membuatku belajar.

Seseorang itu, yang pertama kali kudatangi saat aku ingin menangis, membuatnya kebingungan. Hanya menangis. Tanpa kata dihadapnya. Aku tahu ia bingung, bahkan mungkin kesal menghadapi sikap aneh itu, namun ia dianugerahi Tuhan kesabaran berlebih, ia hanya diam dan mencoba mengerti bahwa saat itu aku tak butuh interupsi. Ia menemaniku hingga tetes terakhir air mata. Hingga setiap lara menguap menuju singgasana sang Pencipta. Mengetuk pintuNya dan menjelma menjadi sebentuk investasi yang bernama BAHAGIA.

Seseorang itu yang telah mengubahku tanpa sengaja. BUKAN. Bukan merubahku karena aku harus sempurna di hadapnya. Tidak. Sungguh bukan seperti itu. Ia dengan segala kesederhanaannya memang membuatku jatuh cinta. Ia dengan segala sikapnya yang tidak menyenangkan melunturkan segala keegoisan yang menggenggam hatiku. Ia memang luar biasa namun ia bukan malaikat, ia adalah manusia yang diciptakan Tuhan tanpa pilih kasih.

Masih hangat dalam memoriku, seseorang itu seringkali “lupa”. Segala hal.

Seseorang itu pernah mengucap janji yang membuatku bertahan. Pada awalnya ia menepati janjinya, hanya pada awalnya, karena akhirnya ia pun lupa segala. Saat ia dan janjinya masih berlaku, aku merasa aman. Aku merasa dilindungi, seolah ada tangan tak kasat mata yang menggenggam jemari, menuntun dan menghalangi. Saat ia dan janjinya telah kadaluarsa, aku kehilangan arah.

Aku menuntutnya setiap hari, menuntut janjinya. Menggugat. Seseorang itu hanya diam dan tetap berjalan. Awalnya aku mulai belajar untuk membencinya. Namun akhirnya aku berbesar hati. Seseorang itu bukan siapa-siapa. Ia berhak pergi. Ia berhak kembali ke hidup sempurnanya itu. Tanpa ia sadari, hal itu mulai mengubahku. Aku tahu bagaimana sakitnya saat janji tak ditepati. Aku tak mau berjanji, lebih baik lakukanlah apa yang bisa dilakukan.

Saat ada tangan yang menggenggam jemari dan menuntutmu, itu memang nyaman dan menyenangkan. Saat ada tangan yang terentang di hadapanmu, itu adalah perlindungan yang menenangkan. Tapi ternyata kadang itu hanya semu dan menyesatkan, akan ada saat di mana semuanya hanya melemahkan dan membuatmu ketergantungan. Kepergiannya memang membuatku hilang arah, bahkan mungkin akal. Hanya saja, sudah kukatakan bahwa Tuhan mengirimkannya untuk membuatku belajar. Masa sulit itu membuatku bertambah kuat. Aku mulai percaya pada diriku sendiri. Jangan pernah menggantung harapan pada sebuah jiwa, selain jiwamu.

Saat aku menggugatnya, itu tak kan pernah membuatnya kembali, hanya semakin membuatnya mantap untuk pergi. Sesuatu, seseorang, biarkan lah apapun itu mengawang di sekelilingmu. Jangan memaksakan mengubah sesuatu yang tak dapat dirubah, hanya membuatmu lelah.

Belajar membencinya, menyenangkan pada awalnya, puas. Tapi kepuasan itu dibayar dengan seluruh ketenangan jiwa. Melepaskan membuat segalanya lebih mudah.

Seseorang itu memang dikirim Tuhan untuk membuatku belajar.

Sekarang dengan senyuman aku ingin mengatakan padanya:
Terima kasih atas kebersamaan yang indah, waktu yang kau siapkan untukku, pemahaman akan diriku, dan mengingat ulang tahunku: memberikan kado pertama di saat orang lain melupakannya. Terima kasih telah menyadari keberadaanku, hal itu membuatku yakin bahwa Tuhan menciptakanku tak sia-sia.Terima kasih untuk mengajariku bahwa caci maki akan mengasah jiwamu menjadi berlian. Terima kasih telah meninggalkanku tiba-tiba, melanggar semua janji, hal itu membuatku belajar untuk percaya hanya aku dan Tuhan yang bisa membuatku bahagia. Terima kasih untuk membuatku kesal karena kamu tak pernah menghargai, hal itu membuatku belajar bahwa pengorbanan tak selalu dibayar kontan. Terima kasih untuk membangkitkan amarahku, hal itu membuatkan yakin akan kesabaran. Terima kasih untuk membuatku mendendam, hal itu membuatku yakin bahwa melepaskan dan keikhlasan diciptakan Tuhan bukan tanpa alasan. Terima kasih untuk segala: tawa maupun air mata.

Maaf telah hadir di hidupmu dan mengganggu segala keseimbangan, aku hanya bisa meminta Tuhan agar semua ketidaknyamanan itu menjadi penebus segala dosa dan penambah tabungan pahala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s