Sebuah Renungan

Suatu hari seorang sahabat jatuh cinta kepada seorang lelaki. Ia mempertemukanku dengan lelaki itu. Entah kenapa pada pertemuan pertama itu, aku memiliki semacam insting. Entahlah. Atau mungkin ini hanya prasangka yang tidak berdasar. Aku mengkhawatirkan sahabatku. Ada sesuatu tentang lelaki itu yang membuatku merasa…. Yang jelas “sebaiknya bukan dia”. Seperti itulah.

Dan semakin lama, lelaki itu semakin bertingkah… Beberapa kali membuat sahabatku gerah, gelisah, dan tak jarang menangis. Kepengecutannya untuk memperjelas status mereka yang membuat lelah sahabatku. Aku mulai tidak menyukainya. Mulai mencari cara untuk membuat sahabatku menjauhinya. Mulai mencari cari untuk membuka mata sahabatku. Tapi ia memang sedang buta. Kesalahan apapun yang lelaki itu lakukan selalu ia bela. Lama-lama aku menjadi malas untuk mendengarkan ceritanya tentang lelaki itu.
Tapi,
Kemarin aku sadar. Lelaki yang tidak kusukai itu, yang pernah membuat sahabatku menangis adalah kebahagiannya. “Hidupnya”. Andai lelaki itu tahu bahwa sahabatku begitu “hidup” saat menyiapkan kejutan demi kejutan untuk hari ulang tahunnya. Andai lelaki itu tahu seharian yang dihabiskan sahabatku untuk mencari kado terbaik untuknya, berkali-kali bertanya padaku “apakah ini tepat untuknya?”. Dan begitu bosannya aku mengiyakan, kembali ia bertanya mencari keyakinan. Andai lelaki itu tahu bahwa sahabatku begitu cemas ia tak menyukai kado tersebut. Andai lelaki itu tahu bahwa sahabatku begitu gelisah menunggu hari berganti dan tak sabar untuk mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”.
Ya…Lelaki yang tak kusukai itu adalah kebahagian sahabatku.
Kemudian aku teringat pada kenangan bertahun lalu. Aku ada di posisi yang sama dengan sahabatku itu. Betapa menyakitkannya saat sahabat kita tidak mendukung sebuah hubungan dengan seorang lelaki yang kita cintai, bahkan berusaha untuk menghentikanku memperjuangkannya. Dan saat ini mungkin aku telah menyakiti sahabatku…
Aku mungkin tidak perlu belajar untuk menyukai lelaki itu ataupun menerima kehadirannya. Aku hanya tidak perlu lagi untuk membuat sahabatku menjauhi kebahagiannya. Tak perlu menjadi sok tahu bahwa lelaki itu bukan seorang yang tepat untuknya. Tak perlu. Hanya perlu mengerti dan berdoa, semoga kebahagiaan itu kekal sampai akhir.
Walau bagaimana, perasaan hanya bisa dimengerti dengan utuh oleh pemiliknya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s