Janji dan Ingkar

Suatu hari Janji datang menawarkan harapan. Aku tak begitu saja percaya. Aku tak kenal dengannya dan tak ingin mengenalnya (lagi).

Kukatakan padanya, “Jika kamu masih berkawan dengan Ingkar, aku tak ingin kamu dekat-dekat denganku.”

Janji terdiam. Terbata ia mulai menjawab, “Aku dan Ingkar bukan sekedar kawan. Aku ada, jika ia ada. Ia tiada, aku pun tak akan ada. Sepaket yang harus kamu terima. Aku juga tak suka padanya, tapi aku tak berdaya tanpanya.”

“Tak usah dekat-dekat denganku kalau begitu.”

“Kenapa?”

“Kamu selalu bersekongkol dengan Ingkar. Mengerdilkanku. Membangkitkan amarah.”

“Aku bertanya padamu untuk terakhir kali. Janji yang kamu maksud itu, akukah?”

Lama aku menatap matanya. Mencari persamaan Janji yang kini ada di hadapku dengan Janji-Janji yang pergi meninggalkan jejak luka selama ini.

“Entah. Aku tak ingin terjebak lagi, Janji.”

Janji tertawa sebelum berubah menjadi asap pekat yang terbang bersama angin. Seperti biasa. Janji akan selalu hilang tanpa jejak. Mengejar Ingkar yang katanya tak disukanya. Nyatanya Ingkar adalah cinta yang selalu dirindu Janji. Ingkar adalah rumah yang selalu didatangi Janji dengan langkah pelan tanpa suara.

Semata karena ia tak ingin ketahuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s