Cerita Tersisa Tentang Dia

Hari ini aku iseng berkunjung ke ‘rumah’mu, setelah sekian lama aku acuh -menahan diri- namamu berkeliaran di timeline. Ajaib. Dua tahun susah payah kuabaikan kecanduanku akan kebersamaan kita -ugh! Aku kesulitan mengeja k-i-t-a. Iseng? Sebenarnya jika harus jujur: aku sakau.

Dan aku mulai menikmati ketidakwarasan yang sekian lama pura-pura kuanggap tak ada. Kutelusuri sisa-sisa wangi tubuhmu yang serupa cemara tersaput embun. Kuamati setiap remah roti yang mungkin menyisakan jejak samar bibirmu. Atau sekedar setetes keringat yang terlupa di sudut handuk kotor menggumpal.

Ketelusuri perlahan setiap lembar bisu yang menyimpan wajahmu. Dan aku semakin tidak waras mengunduh potret yang membekukan binar mata mengagumkan itu. Menjadi masokist menyimpan ilusi dalam ruang hardisk untuk kutengok sesekali demi memuaskan dahagaku pada darah di luka menganga.

Kamu sekarang begitu berbeda. Tak seperti dahulu. Hanya binar matamu yang tersisa. Meyakinkanku jika itu kamu -tak ada binar mata lain yang menyamai milikmu. Pipimu gembung menggemaskan, tak sekurus dulu. Tawamu lebih riang seolah mengabarkan bahwa kamu lebih pandai berceloteh. Tak seperti dahulu. Dan kamu mulai nyaman dikelilingi sekumpulan kawan -benarkah sekedar kawan?

Hari ini aku rindu senyum yang sekian lama absen. Hei! Tahukah kamu jika aku berkeliaran dengan selembar kertas yang tercetak sebuah wajah yang begitu bahagia? Wajahku yang bersinar samar menyerap cahaya membutakan di sampingku. Kamu.Meski hanya satu detik tawa yang kutukar dengan tangis berbilang tahun. Biar saja. Sebelum aku sepenuhnya jadi bayangan. Demi bersamamu, menjaga binar mata mengagumkan. Tahu diri untuk tidak jadi kejutan di depan wajah membutakanmu.

Untukmu..
ketika kutatap matamu, kurasa ‘cukup’ dan kutemukan rumah untuk pulang.

Untukmu…
yang tergila pada kupu-kupu.
Jika reinkarnasi itu nyata aku lah perempuan pertama yang menjelma kupu-kupu, meski sekedar sepotong sayap cacat. Asal bisa mengepak di perutmu. Cukup.

Untukmu…
yang membuatku berpikir ulang akan kesendirian. Meragukan perkawanan dengan sepi berbilang tahun. Rela bercerai dengan sunyi.

Untukmu…
yang bahkan cinta tak cukup menjabarkan rasa. Kubiarkan tak bernama meski berharga.

Untukmu…
yang sanggup membuatku menelusuri setiap semak di sudut dunia. Mencarimu. Sepanjang usia.

Untukmu…
yang meski hanya hampa tersisa dalam cerita tentang kita. Tetap saja tak sudi kucampakkan.

Untukmu…
yang membuat seseorang setelahmu bukan siapa-siapa.

Untukmu…
yang kutinggalkan, demi apa?
demi ketidakwarasan…
demi suatu hari saat aku kehabisan candu dan kembali berkunjung ke ‘rumahmu’.

bye…see you soon!

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Tersisa Tentang Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s