Aku Mencintai Hujan, Wangi Tanah, dan Kamu Sekaligus

300962_2292982817476_980552878_n

Hujan selalu menyisakan tanya yang tak terjawab di benakku. Hujan selalu setia menemani setiap pertemuan kita. Adakah hujan merupakan tanda hadirmu? Dan aku mulai mengintip malu-malu saat tetes pertama membasahi ujung daun yang membisu, adakah engkau berdiri di ujung jalan sana? Menanti kita bertatap muka. Berdiri dengan segala pesona, melantunkan simfoni akan kerinduan yang membuncah di ubun-ubun.

Sayangnya TIDAK. Engkau mungkin ada, menatap langit yang sama, menghitung tetes demi tetes yang tumpah, ataupun berirama bersama ketukannya pada tanah. Engkau memang ada. Ada dalam dimensi tak kasat mata. Ada dalam bayang semu tanpa wujud nyata. Aku dan kamu bertatap muka dalam fatamorgana.

Hujan mungkin telah purba…

Tapi aku bisa mencium aroma tubuhmu dalam wangi tanah yang penuh kemewahan. Pun aku bisa melukis wajahmu di setiap tetesnya. Hujan merefleksikan fantasiku akan wujudmu yang mulai samar tergerus jarak yang menjauhkan pertemuan. Samar. Hidungmu. Matamu. Bibirmu. Matamu paling jelas rasanya, penuh pendar kepolosan anak kecil.

Hujan adalah pelebur jeda, perekat tanpa sekat tapi tak mengikat. Hujan sekali lagi adalah milik kita. Hanya kita dalam bisu. Saling tatap. Hujan tak pernah hadir saat kita di ujung jalan yang berbeda. Hujanku, hujanmu, hujan kita. Adalah saat berlari. Seirama walau tanpa pertautan jemari. Basah seluruh. Sama rata. Terengah, nafas putus-putus, diakhiri tawa. Mentertawakan Tuhan yang mencandai kita, karena hujan hanya turun saat kita melangkah satu-satu di jalan beratap langit.

Hujan memang bukan sebuah kepastian, namun ia adalah ikatan. Penghubung samar akan cinta yang tersisa setelah tergerus egoisme. Masihkah hujan mengiringi pertemuan kita?

 Masih kuingat jelas katamu, “Biar saya duduk di sana”. Dan kau pindah ke dekat jendela, di mana tetes hujan merembes perlahan, membuatku basah dan batuk tanpa jeda. Ah..inikah yang dinamakan ROMANTISME? Entah! Yang jelas nilaimu bertambah di hadapku seiring dengan kadar cinta yang terus menanjak menuju pintu langit. Mengetuk pintuNya agar terbentang jalan penyatuan. Aku mencintai hujan, wangi tanah, dan kamu sekaligus.

*hujan masih turun di luar sana, seakan Tuhan memberiku waktu lebih lama untuk mengenangmu….

Advertisements

2 thoughts on “Aku Mencintai Hujan, Wangi Tanah, dan Kamu Sekaligus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s